December 23, 2008

...dan aku hanya butuh diam

'mungkin kita memang ga berjodoh...'
'...'
'dan tuhan telah menyampaikannya pada kita'
'...'
'kamu tau sendiri, selama ini, kita ga pernah bisa bersama yang benar2 bersama. setiap kita saling dekat, setiap kita ingin bersama, bahkan ketika kita pernah bersama, selalu ada saja hal yang pada akhirnya memisahkan kita...'
'...'
'apa memang ada yg salah sama kita?aku?kamu mungkin?'
'...'
'kalau memang mungkin kita ga jodoh di dunia, mungkin kita berjodohnya d akhirat nanti. berjodoh d surga...amin...'
'...'


tuan 'diam-seribu-bahasa', tuan 'diam-membatu'... si tuan itu tetap diam. tak keluar sedikitpun kata2 dari mulutnya. entah bila dipikirannya. si tuan itu selalu begitu. diam tak bereaksi, tak ada respon. susah diajak bertukar pikiran, apalagi untuk dibawa berdebat. bahkan ketika kusampaikan pendapatku mengenai 'jodoh'. entah apa yang ada dipikirannya sehingga sulit untuk dia ungkapkan. sesuatu yang buruk kah? yang bila dia sampaikan padaku akan sungguh menyakitkan dan membuat duniaku berhenti berputar? atau sesuatu yang dia pikir tak akan bisa aku cerna dengan akal ku? tuan, aku bukan cenayang yang dapat begitu saja membaca apa yang berkelebat dalam pikiranmu.

'iya kan Yang? iya kan?!'
'...'
'lalu apa namanya ini?yang terjadi sama kita ini, namanya apa??'
'...'

seperti bermonolog. anjing menggonggong, si tuan tetap terdiam. seribu bahasa. bahkan ketika tone suara naik satu oktaf lebih tinggi, si tuan tetap tak bergeming.

'aku juga harus diam kalau begitu...seperti kamu'
'Ra...'

hanya satu kata itu yang akhirnya keluar dari mulutnya. dan...heugh. si tuan merengkuh pundakku. dan seketika menggapai keseluruhan badanku. membuat dadaku sesak karena dia kini mendekapku. dalam hitungan detik ragaku terkuasai. aku tak berdaya. dia memelukku erat. mentransfer seluruh energi panasnya padaku. yang dapat kurasakan kini hanyalah panas tubuhnya serta deru nafasnya. dia tetap tak berkata-kata. pelukan ini mengartikan lebih dari sekedar kata-kata yang semestinya dia ucapkan. namun membuat seribu tanya baru dalam otakku.


dan mungkin aku hanya butuh diam, seperti dia...

December 3, 2008

tanggal 14 itu, fullmoon...

kau serahkan punggungmu, agar aku bisa bersandar disana...
kau menyediakannya untuk ku berkeluh, tanganmu kuat mengcengkeram ragaku yang lelah terkulai di punggungmu...

-------

kau tahu aku masih kuat berjalan, namun tak kau biarkan itu. tak kau biarkan aku berjalan di tepian dengan dada sesak menghisap lembabnya udara malam kota bandung. seketika merunduk di depanku, membelakangiku, menyediakan punggungmu dan tanganmu bergerak kebelakang, kearahku. menggapaiku agar aku bisa menghempas ragaku, terkulai di punggungmu, dan tanganku akan sangat erat memeluk lehermu, menciumi bau rambutmu, sementara kedua tanganmu menggenggam kakiku erat, agar aku tak terjatuh dari punggungmu.

ketika itu tanggal 14, bulan penuh tepat diatas kita. malam gelap tersiram sinar bulan yang sendu. aku hanya bisa menurut, dan terdiam. sambil terus kurengkuh lehermu, kubuai dengan rambut panjangku yang lurus terurai menyapu wajahmu sesekali. sampai dapat kau cium wangi rambutku. kau bilang rambutku harum, baru ku cuci dengan wangi mint. kukeringkan juga mereka dan kusisir rapih uraian rambutku. seperti yang selalu kau katakan tiap kali sehabis aku mencuci rambutku. bahwa mereka harus kering, dan rapih. kulakukan itu sesaat lalu sebelum kau singgah. kau dapat menciumnya kan? rambut panjangku, yang tak kau ijinkan untuk dipotong, rambut panjangku yang wangi dan rapih. yang sekarang sedang membelai lembut telinga dan lehermu, serta sesekali turun mencumbu pipimu.

langkahmu pelan, mungkin karena menggendongku yang beratnya memang bertambah. entah karena kau sekedar ingin menikmati malan di bawah 'fullmoon'. tak kudengar napas kelelahan karena masih membiarkan aku di punggungmu. dan kau pun berkata bahwa aku masih sanggup kau gendong d belakang punggungmu, aku masih ringan katamu. saat itu aku berharap kalau langkahmu lebih lambat lagi, dan jalan yang akan kita lalui akan masih jauh lagi.

mulailah kita berbelok, masih menyusuri jalan, menuju arah yang lebih gelap. makin membuatku sesak, meski aku sudah dengan nyamannya karena merasakan kehangatan punggungmu. aku bertanya 'kenapa?' tapi kau diam. karena tanya itu hanya tercekat di tenggorakanku, kau mungkin tak mendengarnya. 'kenapa?' kali kedua aku melontarnya, kali ini bersuara, berbisik, hilang terderu suara kendaraan yang lewat beberapa. kau masih diam. hingga aku rengkuh lebih erat lehermu, kepalamu, sambil terus kucium rambutmu. aku hanya bisa diam setelahnya. hanya sepatah 'kenapa?' yang begitu sulit terjawab, namun cukup membuat kelu lidah, pikiran, dan perasaan. memang mungkin tak perlu kau jawab. pohon-pohon besar mendesir daunnya. seakan ikut mendengar tanyaku dan berusaha menjawabnya. mereka pun ingin saling merengkuh, ketika jatuh pandangan ibanya melihat kita.

aku ingin tidur saja, hingga esok hari. saat dimana bulan sudah menghilang dari langit dan bintang tak lagi terlihat kilaunya. mungkin tak usah bangun lagi setelah tidur dalam keadaan seperti ini. saat kita sama-sama terdiam dengan hanya hembus nafas kita yang terdengar. saat dimana tak perlu lagi ada pertanyaan. saat aku mencium bau rambutmu, dapat membelai pipimu dengan bebasnya, dan merengkuh lehermu hingga seakan asa dan cintamu ikut terengkuh bersamanya. saat dimana tanganmu tak terlepas sedetikpun dari ragaku.

saat yang seperti ini. dibawah terang bulan dan kilau bintang.
berjalan menyusuri tepian, menghisap malam. berdua.

-------

[bandung, 14 oktober 2008]