July 31, 2009

Senja Kala Itu

suatu senja di kota Bandung...

'tolong pergi jauh dari aku. lebih baik kita ga usah lagi berhubungan, ga ada lagi telpon, ga ada lagi sms, chating ataupun email. kita harus benar2 jaga jarak sekarang.sejauh-jauhnya! jangan lagi ganggu aku...'
'...'
------

Adit
mimiknya berubah. mata bulatnya berkaca. airmata itu sudah pastilah akan tumpah sebentar lagi. dia hanya memandangku tajam dan dalam. ada sebersit amarah. rahangnya mengeras. aku menunggu reaksinya atas perkataanku tadi. tapi dia hanya pergi. sejurus kemudian membalikkan badannya meninggalkan aku. dan tanpa berkata apapun. tanpa mengeluarkan suara apapun. aku dibuatnya heran. saat itu mungkin yang pertama kali dalam hidupnya dia tak lagi membantah. untuk pertama kalinya dia tidak mendebat segala yang aku katakan padanya. sedikitpun dia tidak. apa artinya ini? apakah itu Ya, atau Tidak?

diam adalah hal yang bukan dia sekali. tak membantah ataupun tak mendebat, itu bukan dia sama sekali. dia adalah yang suka mendebat, cerewet, tak mau kalah, jago menyangkal, semangat untuk membantah sampai siapapun lawan bicaranya terdiam dan mengaku kalah. bahkan kali ini aku sudah mempersiapkan jawaban demi jawaban bila seandainya dia mendebat. tapi dia tidak. lalu ada apa dengan dia hari ini?

mendadak, bulir-bulir sesal muncul di benakku. apa yang tadi aku katakan pastilah terlalu kasar. ah bukan, biasanya dia senang dengan kalimat kontroversi dan provokasi sejenis itu. bukan karena terlalu kasar. entahlah. kini aku hanya diam mematung, memandang rambut panjangnya yang semakin jauh pergi. dan dia pergi berjalan santai. tidak lari atau berjalan cepat seperti biasanya dia.

'aku yang memintamu untuk pergi. tapi aku juga yang merasa sangat kehilangan. bahkan mulai saat ini, ketika kamu baru sepuluh langkah menjauh.'
Rana
dia bisa saja menampakkan ekspresi marah. suara membentak dan terdengar kasar. tapi matanya, tak bisa menyembunyikan isi hatinya. aku bukannya merasa terlalu percaya diri akan hal ini, tapi aku selalu yakin (paling tidak menyimpan keyakinanku) kalau di hatinya itu selalu masih ada aku. bahkan detik ini, saat dia memintaku untuk pergi menjauh darinya.

apalagi yang harus aku katakan padanya, bila hal ini bukanlah kali pertama dia memintaku untuk menjaga jarak dengannya. namun ada yang beda dengan yang sekarang. kali ini aku memilih untuk diam. diam dalam artian benar-benar tak mengeluarkan sepatah katapun. jangankan untuk mendebatnya, bahkan mendengus kesal saja aku tidak. hari ini aku tidak seperti aku yang biasa. aku rasa alasannya karena aku sudah lelah. lelah untuk selalu mendebat kata-katanya hingga dia menyerah, dan aku merasa menang. kali ini aku biarkan dia. dengan segala keinginannya, dengan segala ego dan pendapatnya. terlebih untuk mengabulkan permintaannya. kali ini saja.

aku bahkan tak bisa marah, seperti aku biasanya. menangispun, aku hanya tiba di pelupuk mata. kuhela nafasku yang cukup berat. kali ini tanpa berkata, aku pergi darinya. membalikkan badan seketika dan tidak berjalan cepat. kuatur langkahku pelan, santai, dan menikmati setiap inci jarak yang semakin memisahkan aku dan dia. kali ini aku tidak berlari. karena tak ada lagi yang akan aku kejar. kali ini aku berjalan perlahan, menanggalkan sedikit demi sedikit sisa cinta yang ada untuknya. ambillah semua, aku tidak butuh lagi.

'kamu yang memintaku pergi, maka aku akan pergi. ini akan menjadi kehilangan yang terakhir bagiku. setelah jarak sepuluh langkah, semua cinta akan tanggal sempurna.'

July 28, 2009

its a path

kesempatan, yang banyak dibilang orang gak akan datang dua kali, itu emang bener adanya. sejauh ini, banyak kesempatan-kesempatan bagus yang bisa dijadikan ajang untuk eksistensi diri, malahan gw sia-siakan begitu aja. tanpa dipikir pentingnya untuk masa depan, pentingnya untuk pembentukan dan pengembangan diri, tanpa ragu(dulu) gw bilang 'NO'. dan hari ini, baru lah gw menyesal. seandainya dulu gw ikut ini, seandainya dulu gw ga kabur waktu lomba itu, seandainya seandainya yang lain sedang rajin-rajinnya berseliweran saat ini.

ketika bikin CV, rasanya ngenes banget. 'ko kosong begini yak?' hmmm kalau begitu caranya, gak akan ada perusahaan yg mau mempekerjakan gw. i'm not that competent enough. ketika semua orang mengisi penuh semua daftar prestasinya, pengalamannya ini itu. gw liat yang punya gw. kosong melompong. mau gw isiin apa?? lomba menggambar waktu TK?? hell yeah, Agni!

ketika ini, gw udah 23 tahun(okay, am almost 24!), ketika muncul hasrat untuk lebih meng-eksistensi diri, eh malahan berasa sulit sekali. hiks. sedih rasanya. telah menyia-nyiakan kesempatan bagus. kabur dari latihan matematika, kabur waktu lomba renang, kabur lomba scrabble, ga tertarik coba daftar student exchange jaman sma, ga minat ikutan english club, ga tertarik ikutan ini itu, dan acara kabur-kabur lainnya menjelang lomba2. Allah udah kurang baik hati gimana ngasih jalan segitu lebarnya dan segitu terangnya. kalau sekarang gw belangsak kaya gini, beneran murni ulah gw sendiri. segitu enaknya dulu dikasih kemudahan, tapi malah gitu aja dilepasin dengan dalih ingin mencari pengalaman di lain hal. yang mana pada akhirnya, jalan yang di tempuh berpengaruh NOTHING terhadap kelangsungan masa depan gw (yg mana itu adalah masa skrng gw ini). hmpfh...

hal-hal itu jugalah mungkin yang membuat gw sekarang begitu nge-push adik2 gw untuk lebih eksis. dalam artian, sekolah atau kuliah saja sangatlah tidak cukup. self improvement, penempaan mental dan pembentukan diri juga sama-sama pentingnya sama sekolah. maka gw lah yang berusaha membentuk mereka. bukan karena banyak cita-cita gw yg gak kesampean, atau karena penyesalan gw, tapi gw cuman gak ingin mereka menyesal seperti gw sedang menyesal saat ini. kalau mereka berpikir gw terlalu menekan mereka untuk ikut ini itu, les ini itu, selalu blg jgn pernah males dan merasa lelah, coba untuk ini itu, harus percaya diri tinggi, dan lain2nya...trust me my siblings, that's just for your own good, for the sake of your bright future. and the more is because you both so damn potential. so please understand it.

*maafkan aku Allah...untuk telah mengabaikan segela kenikmatan dan kemudahan yang berusaha Kau beri. untuk telah membuang semua waktu berharga yang Kau sediakan. untuk memilih jalan yang mungkin tak sebegitu berbekasnya sekarang. dan untuk terlalu memaksakan kehendakku pada adik-adik.

July 22, 2009

Shift + Del


kata orang (entah orang yg mana) batas antara benci dan cinta itu begitu dekat. tipis, setipis rambut d belah tujuh. bukan hal yg mustahil hari ini benci setengah mati sama seseorang, sampe ingin mengubur dia hidup2, besoknya bisa jadi cinta sama orang itu hingga sanggup membuat hidung terbang sampai langit ketujuh. pun kejadian sebaliknya. kenapa bisa begitu??tanyakan saja pada Tuhan dalam doamu setiap malamnya. atau tanyakan pada ahli kimia terhebat di dunia, tentang reaksi yg terjadi. karena itu semua dipengaruhi zat2 kimia dalam tubuh yang rentan akan reaksi tak terduga. *sigh*

sering, saya berharap akan lenyapnya memori2 saya yang menyimpan kenangan buruk sama seseorang. di delete dengan metoda SHIFT+DEL. and i'll sure to click YES. seandainya memori otak bisa kaya gitu yakh. bahkan terkadang, kenangan indah pun ingin ikut dilenyapkan juga. mengingat kenangan buruk sering bikin bete, dan mengingat kenangan indah seringnya bikin sedih yg berakhir bikin bete juga. (ah dasar bete-girl!)

Tuhan, kali ini saya minta tolong...hilangkan semua folder-folder yg mengandung unsur *RASU dan semua file dengan extension .luv karena sepertinya extension itu telah bermutasi menjadi virus yang membuat saya meradang. radang yang bila tertoreh karat akan mematikan bagai arsenik yg mencabut nyawa manusia. ugh! dan juga untuk folder2 *HGD serta semua file .croc dihapus saja lah. file2 itu membuat prosessor saya lamban dan sering nge-hang. malahan terus2an menduplikasi diri dengan create folder di dalam folder seperti ingatan yg mendarah daging, merasuk kedalam syaraf otak, sama2 bersama darah melewati arteri, bersama makanan terserap di usus, dan bersama kotoran mengendap di kantung empedu yang herannya tak mau ikut keluar melalui anus. maka antivirus canggih buatan microsoft pun tak mampu menghalaunya, obat pencahar pun tak mempan mengeluarkannya bersama ekskresi.

untuk kali ini Tuhan...
saya mohon...

"Letih disini...
kuingin hilang ingatan
Letih Disini.....
kuingin hilang ingatan" ingin hilang ingatan - Rocket Rockers

July 15, 2009

Poffertjes

matahari baru muncul lagi setelah sepagian hujan, menimbulkan silau di jalanan yang basah. cipratan air sedikit sedikit mulai mengotori sepatuku setelah berjalan kurang dari satu blok. itu dia tempatnya. terlihat hangat dengan tembok batu bata merah yang kentara. kusen kayu warna coklat tua, dan bentuk jendela yang vintage dengan trotoar dan jalan tertutup paving block abu yang menciptakan suasana tentram. kuhirup sedikit hawanya. hawa sejuk Bandung terasa kental. untuk sore ini, bau hujan menambah sejuk aromanya.

sambil meraih pergelangan tanganku dan menaikkan sedikit jam tangan yang tiba-tiba terasa longgar di pergelangan kiri, aku terdiam beberapa jenak di depan pintu cafe. kuatur nafas yang iramanya bertambah cepat seiring jarak yang semakin dekat dengan pintu di depanku. ehm ehm...kucoba mengendurkan tenggorokan yang nyaris tercekat ini sambil melirik ke atas daun pintu. 'Poffertjes' begitu bunyi tulisan coklat tua di atas plang berwarna khaky. tring...aku disapa bunyi lonceng kala kudorong pintu cafe perlahan dan langsung kucium aroma khas cafe ini. setauku, ini aroma adonan kue yang terpanggang bercampur aroma kopi.

kulirik sepatuku sekilas. sol karet putih di bawah bahan kain bermotif kotak-kotak kecil warna kopi ini terlihat kotor akibat cipratan ketika aku berjalan tadi. langsung aku menghampiri pelayan terdekat yang berdiri mematung di dekat pintu masuk, dan meminta tissu padanya untuk membersihkan sepatuku. tampak lebih baik. warna putihnya sudah terlihat putih kembali. sambil masih menunduk berusaha membersihkan sepatu sedikit lagi, ku edarkan pandanganku mencari sosok orang yang akan kutemui. kulirik jam tanganku. pukul 3.40 sore. dia pasti sudah datang. dia tak pernah terlambat. cafe kecil yang layoutnya cukup terbuka ini memudahkanku mencarinya, ditambah lagi cafe tidak begitu ramai saat itu. kudapati sosoknya di pojok ruangan. duduk di sofa kecil ukuran single yang menempel ke tembok dan sedang menatap jalan melalui jendela di sebelahnya. dari sini, bahkan dalam keadaan setengah berdiripun, aku dapat melihatnya.

setelah membuang tissu bekas, aku berjalan pelan kearahnya sambil berusaha meyakinkan diri akan sosok yang kulihat. itu benar dia, aku tahu persis. rambut panjangnya yang pertama menarik perhatianku. masih tetap panjang, kali ini terurai bersama poni nya yang juga sudah panjang melewati mata. dia memang tidak suka berponi sebenarnya. entah apa yang dilihatnya diluar sana, aku melihatnya menaikkan ujung bibir tersenyum. senyumnya yang sudah lama tak kulihat. senyum simpulnya yang terkadang terlihat sinis. dia mengenakan t-shirt hitam lengan panjang berkerah V dengan dada rendah. di lengan kursinya aku lihat ada bahan abu-abu tua tersampir. pasti itu jaketnya. hitam dan abu. sangat dia sekali.

beberapa langkah sebelum aku sampai di mejanya, dia menoleh ke arah aku datang dan dia berdiri. sosoknya terlihat lebih kurus dari kali terakhir aku bertemu dengannya. lebih dari setahun silam. aku terhenti karena dia menatapku tajam. seperti biasanya dia yang terlihat angkuh. lima detik setelahnya, dia mulai mencair. senyum sedikit demi sedikit terkembang dari bibirnya. dia cantik. dia beringsut sedikit dari mejanya. menungguku menghampirinya. aku tak dapat mengatur lagi ekspresiku. mungkin senang berbinar, bercampur grogi seiring semakin dekatnya aku dengannya.

'hai...'

suara rendahku hanya mampu mengeluarkan kata itu. aku tersenyum padanya.

'uhm...hai...A...dit...'

dalam kekakuannya, dia mampu mengeluarkan 3 kata. ah, sangat dia. selalu berhasil mengeluarkan kata yang lebih banyak dariku. dia mendekat kearahku. yang hanya tinggal berjarak beberapa centi dari mejanya. deg. detak jantungku tak karuan. harum tubuhnya mulai tercium. harumnya masih sama. parfumnya masih beraroma segar seperti dulu.

sekarang dia berada tak berjarak d depanku. meraih ujung jaketku yang tak terkancing. tatapannya aneh. ada sejuk, hangat, tajam, itu semua mungkin yang tercampur di dalam matanya yang coklat tua. dia mengggigiti bibirnya. kebiasaannya yang tak pernah hilang. aku tersenyum lagi padanya. ada yang terasa di perutku. desiran halus itu, muncul lagi. rasa itu...rasa rindu aku akan dirinya. aku kangen pada sosok mungil perempuan di hadapanku ini. tak kuasa lagi aku dapat berdiri mematung dalam keadaan seperti ini. aku kini memeluknya. merengkuhnya sambil melepas semua rindu. jiwa laki-laki ku menang. aku semakin mempererat dekapan ini. terasa hangat seperti biasa ketika aku memeluknya. kepalanya terbenam di lenganku. tingginya tak lebih dari bahuku. dia menelungkupkan wajahnya di ketiakku. membauinya seperti yang biasa dia lakukan bila berada di dekatku. wangi rambutnya tak berubah. masih wangi mint segar seperti dulu. mencium harumnya membuatku memutar memori lama bersamanya. 'aku kangen...' dia berbisik pelan. sambil terus memeluknya, kali ini aku membiarkan dia mengendus ketiakku. kebiasaannya yang satu ini memang janggal, dan biasanya aku jengah kala dia mulai ingin mengendus ketiakku. memang kebiasaan yang aneh. mengingatkan aku pada kucing peliharaanku di rumah yang senang mencari celah celah di pangkuanku sekedar untuk menghangatkan diri. dia pun seperti kucing itu, bila dia sudah menemukan lenganku. menelungsupkan wajahnya ke ketiakku. aku tak jengah kali ini. ini memang 'sangat dia'.

setelah beberapa detik yang terasa lama, dia melepaskan pelukanku. tersenyum padaku dengan malunya. dia yang angkuh bisa juga tersenyum malu seperti ini.

'Adit kamu apa kabar?'
'baik Ra...'
'duduk yuk'

dia berkata sambil berlalu, kembali duduk d kursinya dan memanggil pelayan untuk meminta menu. kulihat sudah ada secangkir cappucinno yang tinggal setengahnya. disampingnya ada 2 potong waffle yang belum tersentuh. dia pasti sengaja menyisakan ruang di lambungnya untuk poffertjes. biasanya wafle itu akan habis dalam sekejap setelah ditaruh di meja bersamaan dengan minuman favoritnya di cafe ini, secangkir cappucinno bertabur cinnamon yang datang bersama waffle beraroma jahe yang samar. aku memesan teh hangat. dan tentu saja satu sepiring poffertjes. konon inilah poffertjes paling enak di Bandung. poffertjes dengan resep asli Belanda, yang sudah populer di Bandung sedari jaman Belanda dulu. cafe ini pun akhirnya memilih nama poffertjes, karena poffertjesnya yang populer itu.

aku masih ingat matanya yang begitu berbinar saat aku secara tak sengaja menyuguhkannya poffertjes ala cafe poffertjes sekitar 8 tahun silam. dia bilang baru kali itu dia merasakan poffertjes yang sesungguhnya poffertjes. mulai saat itu dia menyukainya. aku pun demikian. melihat binar senang dari matanya, secara tak sadar aku pun menjadi penggemar poffertjes. dan poffertjes selalu mengingat kan aku akan dirinya. matanya yang bulat berbinar tampak seperti poffertjes. dia menyukai gula halus yang bertaburan di atas poffertjes. selalu dia habiskan tak bersisa. tak sungkan dia menjilati jarinya yang penuh gula halus. aku selalu menyukai pemandangan itu. saat itulah wajahnya teduh. seperti anak kecil. keangkuhannya seakan terserap poffertjes yang dimasukkannya ke mulut dengan sekali telan setiap satu poffertjes. Rana, perempuan kurusku yang rakus.

'kamu apa kabar Ra?'
'uhm...baik...'

sedikit heran dengan jawabannya yang singkat. kecerewetannya, berganti dengan tatapan yang mengarah tepat kedalam mataku. dia menyilangkan tangannya di atas meja. tulang-tulang bahunya selalu tampak lebih menonjol kurus dalam posisi itu. tak lama dia menopang dagunya dengan sebelah tangan. lengan kanan bajunya turun sedikit. gelangnya terlihat. gelang kayu coklat tua. terdiri dari 33 bulatan kecil yang dijalin dengan tali hitam. dia bilang itu biji tumbuhan, tapi aku tak pernah ingat namanya. dan aku selalu menyebutnya kayu.

'gelangnya kaya kenal Ra...'

aku berusaha mencairkan suasana yang kikuk. kuangkat tangan kananku, menopang dagu juga seperti dia. berdua kita setengah tertawa melihat kami sama-sama memakai gelang yang sama. Rana membelinya ketika dulu dia bekerja di Kalimantan. dibelinya sepasang, harganya lima ribu rupiah satu gelang. dan dia sendiri yang memakaikan nya di tanganku dulu. 'ini Dit, km kan suka pake gelang-gelang kaya gini. nih aku jg pake'suatu ketika dia sedang berlibur di Bandung. dengan mata bulatnya yang berbinar, saat itu dia melucuti gelang yang sedang kupakai dan menggantinya dengan gelang ramping itu. di tangan kananku.

sungguh, aku terjebak dalam masa laluku. aku terjebak dalam kenanganku bersama Rana yang semuanya indah. aku kangen tawanya. aku kangen marahnya. aku kangen melihat wajahnya ketika dia kesal dan bibirnya mengerucut. aku kangen jahilnya dia. aku kangen cubitannya di perutku yang tak jarang sampai meninggalkan bekas. kali ini dia terlihat lebih dewasa. pembawaannya lebih tenang, tidak seperti dia dulu yang tidak pernah bisa diam.

'ko sekarang jadi pendiam Ra?'
'dari dulu juga aku emang pendiem ko'
'hahaha iya ya...Adit tau, dulu kamu emang pendieeeem banget'
'hehehe...'

mendengar sindiranku, tawa lepas itu akhirnya keluar darinya. aku pun ikut tertawa. saat saat seperti ini yang bisa membebaskanku dari dunia. saat tertawa lepas bersama Rana karena hal-hal kecil yang jauh dari penting. begitu sederhana, namun menimbulkan perasaan bahagia luar biasa. Rana, hanya dialah yang bisa tertawa selepas ini di depanku. tak pernah peduli sekeliling. setiap kami tertawa, baginya hanya ada aku dan dia penghuni kota Bandung yang sedang menikmati kebersamaan nan indah itu.
poffertjes datang. bersama pesanan teh hangatku yang disertai sejari batang cinnamon saat Rana selesai tertawa. matanya mulai berbinar mengikuti sepiring poffertjes yang diletakkan sang pramusaji ke atas meja. belum lagi pramusaji selesai meletakkannya di atas meja, jari Rana tengah bersiap mencomotnya. momen ini yang aku tunggu dari tadi. blup. satu poffertjes berhasil ditelannya sekaligus dalam hitungan kurang dari tiga detik. mulutnya menggembung penuh dan tersisa sedikit gula halus di bibirnya. bibir penuhnya yang kali ini berwarna jingga tipis.

'pelan-pelan Ra, nanti keselek...kebiasaan deh!'
'hehehe...iya, biasa..poffertjes effect...'

sempat-sempatnya dia memamerkan gigi-giginya disaat mulut penuh makanan, dan melanjutkannya dengan mejilati jarinya yang penuh gula halus. kucolek sedikit gula halus dari piring poffertjes. dan menjawel hidungnya. sekarang hidungnya putih terkena gula halus. lagi, Rana hanya nyengir. sibuk menikmati pofffertjes hingga tak sempat marah dengan keisenganku. Rana membalasnya. dia tusuk poffertjes penuh gula dengan garpu, dan mendekatkannya ke pipiku. selanjutnya dia membedaki wajahku dengan poffertjes yang penuh gula halus. aku hanya bisa pasrah ketika poffertjes itu mengelilingi mukaku dan berakhir di bibirku kemudian ku telan. kembali kami berdua tertawa. kali ini dengan mulut penuh poffertjes dan wajah putih dengan bedak gula halus.

'eh, Adit kesini naek apa?bawa si hitam?'
'gak Ra, Adit bawa si merah. tadi hujan'
'mana?'

Rana melirik keluar jendela mencari sosok si merah, mobilku.
'Adit taro gedung parkir. terus kesini jalan dikit.'
'hooo...eh sepatu udah di bersiin blm Dit?kan jalannya becek tuh..hehe'
'hehe...udah Ra, tadi disitu tuh, minta tissu ama Mas yang itu'
'sekalian aja Adit bersihin sepatu aku...hehehe'
dia masih ingat aku yang gila kebersihan. dia ingat kebiasaanku membersihkan segala sesuatu bila terlihat kotor. sepatu, motor, bahkan mobilku yang harus langsung kubersihkan bila terkena cipratan air. obrolan dan candaan akhirnya mencair bersamaan dengan kenikmatan poffertjes yang sudah menghipnotis kami berdua. selalu, poffertjes membuat kami lupa segala hal. hingga Rana kini melunak dan yang tersisa hanya keriaannya menikmati poffertjes. aku menghela nafas lega. Ranaku, terlihat sungguh indah dihadapanku kini. gerimis diluar mulai turun lagi. iramanya turut bersenandung bahagia bersamaku dan Rana. sungguh adegan sederhana namun sempurna, terbingkai kaca jendela yang mengembun. Tuhan, hentikan saja adegannya sampai disini. disaat rasa ini tercurah hanya untuknya, si perempuan kecilku.

poffertjes kali ini terasa lebih manis. hangatnya teh cinnamon tak mampu menyaingi hangatnya hati yang terselubung haru.

'andai Adit bisa terus ada disini, Ra...'

a stack of thick-books


he's gone...

left me in pieces while i held a big plastic bag on my left hand with sooo many damn thick books inside, and held a photo album on the other hand.
he just took that stupid-looked photo album and ignored the plastic bag.
'i don't read those books'
and he's gone in a second, left me....
i saw his back in a crowded.
nobody cares about me.
nobody take a look at us.
i saw his back, with his favourite grey t-shirt.
i ran, i ran with slow motion...
tried to catch him up just to say goodbye.
i failed. i couldn't catch him. but then i hugged his back.
i hugged him.
still the same, with those heavy plastic bag.

'you forget all of this books...i love you...'
from this angle, i saw his face. that handsome face with great nose.
he looked taller than ussual.
'i love you too...forever...'
then he cried, so did i.
he took the plastic bag with all the books inside.
and he continued his walk...
me, i just stood, watched him gone, and i cried...


*whadda weird dream...

July 10, 2009

lingkaran kecil

bip..bip..someone texting me.
since my phonebook trapped in my previous mobilephone, the sms came with no name, but i know exactly that its bandung number.

ghie, tgl 19 besok aku nikah. km dateng ya, akad nikahnya dulu d rmh ak. klo resepsinya insya allah tgl 9 agustus. ghie km hrs dtg y...

tanpa ada nama yang muncul di handphone, tanpa harus saya bertanya dulu siapakah gerangan kiranya yang kirim sms ini, saya sudah tahu siapa tersangka utama si sender. gleg!dan dia... akan menikah...dan dalam waktu dekat.

'hai Gi!'
'huwaaaaaa teganya dirimu baru kasih tau aku mendadak gini...huhu'
'iya Gi, abis riweuh.mknya ini jg br sempet ksh tau. gi km hrs dtg ya gi...'
'huhuhuhu...benar2 tidak memungkinkan untuk datang...nanti pas akad aku bakal tlp km. jd aku ikut denger km akad ya Wid...'
'hahaha...km itu Gi, ada2 aja ah. bodor wae...btw, suara km ko jadi lembut gini Gi?biasaya treak2...'
'aaahh udah ah sebel sama km. dah ya aku mau menyebarkan dulu berita ini ke orang2'

tangan saya masih bergetar sehabis nutup telepon. saya hanya bisa duduk tegak didepan tivi dengan tatapan kosong. widhi, teman dekat saya, kenal sedari smp. dan kamipun satu sma. teman pulang bersama, teman gosip dikelas, teman berbagi canda tawa dan haru biru (*halah!). beberapa hari lagi akan menikahi pria-nya (yg mana kaka kelas saya pas sma dan kuliah).

biasanya, setiap saya pulang kampung ke bandung, selalu saya menyempatkan diri untuk bertemu dia walaupun sejam saja. atau klo ga sempet ketemu, minimalnya telpon dia buat rumpirumpi khas cewe. nah mudik terakhir kmrn, saya ga sempat ketemu dia. dan rasanya saya pun tidak menelpon dia. tak sempat bertemu widhi untuk terakhir kalinya sebagai lajang. akh widhi, kali nanti kita bertemu, statusmu sudah berubah. saya gak akan bisa bebas lg ajak km jalan2 sekedar untuk makan dan ngerumpi. menelepon km pun nantinya harus liat2 waktu, gak bisa seenak jidat seperti sebelumnya.

antara haru, sedih, dan gembira. gembira sekaligus terharu seorang teman lagi akan menikah. dan sedih karena diberi tahu ketika mendekati hari-H, kaya baru kenal kemarin aja. pernikahan demi pernikahan kemarin rasa harunya beda, karena yang menikah paling teman yang kenal jauh, atau temannya teman, atau bahkan teman kantor yg kenal sebatas d kantor. tapi ada yang beda sama pernikahan kali ini. harunya lebih membuncah. harunya lebih menyinggung hati. karena kali ini, teman yang menikah berada pada lingkaran kecil saya.

'puput, widhi mau nikah tgl 19 besok. akadnya dl, drmh...'
'widhi mahadevi?g ada widhi lain kan Ni???'
'iya put, widhi yg mana lagi?'
'wah...udah mulai masuk lingkaran kecil ya Ni...'

sampe sekarang sebenernya msh spechless,
masih gak bisa berkata-kata mengenai gimana harunya saya...
widhi...akan menikah...


July 7, 2009

rambut panjang nu ngarumbai *

this morning, in the morning-rush-after-bath while i tighten my hair,
a question blew out from my head...

sebegitu perhatiannya kah para lelaki terhadap rambut perempuan?

lalu terjadilah obrolan singkat dengan housemate gw yg sesama perempuan.
'emangnya cowo lebih suka ngeliat cewe rambutnya digerai ya?'
'emaaaang br tau lo?!...apalagi cewe yang rambutnya panjang'
'hmmm...i never realize that, actually...'

gw ga pernah menyadarinya sampe td pagi gw lg ngiket rambut gw, tiba2 gw teringat perkataan seorang teman yang kebetulan lelaki.
'seneng bgt sih rambutnya diiket. bagusan d gerai...'

dan kembali terngiang perkataan beberapa lelaki
lelaki berinisial AS (bukan dukun):
'ngapain siyh rambutnya dijepit. bagusan g usah pake apa2 rambutnya. dah buka aja jepitnya. g usah d iket juga'

lelaki berinisial HG (bukan senyawa kimia):
'rambutnya bagus gerai gini...'
lelaki berinisial JK (bukan capres):
'bosen ngeliat lo yg rambutnya klo g d jepit, diiket, dijepit, diiket.
padahal bagusan biasa aja tergerai.'
lelaki berinisial AS(lagi):
'inget ya, rambutnya ga boleh dipotong'

lelagi berinisial HG..lagi:
'aku suka...cewe yang rambutnya panjang'

ternyata hair does matter yaaa?

belum lagi instruksi untuk mengeringkan rambut setelah keramas, dan permintaan untuk menggerai rambut bahkan kala naek motor.wuusshh!!
'rambutnya digerai aja atuh, jgn diiket terus'
ga tau apa yak, klo naek motor dengan rambut berkibar2, akan membuat rambut lebih cepat kotor, dan bau, dan tendensi untuk kusut lebih besar.
dan suatu ketika pergi terburu-buru sengan rambut setengah basah habis keramas.
'loh mau pergi sekarang?rambutnya g dikeringin dulu gih...'
wuuuttt??ni org langka banget. mau nungguin cewe hari-drying dulu. tapi, dia salah sasaran. sementara gw g suka berlama2, toh ntar d jalan jg kering sendiri.

anyway...
perkara rambut ternyata bisa menjadi hal yang menjadi concern dan ehm..beberapa orang menganggapnya sebagai part yang tergolong crucial. sekarang gw ga heran kenapa banyak perempuan yang menggerai rambut dengan cantiknya walaupun gw menganggapnya ribet dan si poni yang menggantung itu bisa bikin sakit mata lama2 soalnya nyolok2 melulu. dan ga heran juga kenapa perempuan rela nyalon berabad-abad lamanya untuk membuat rambut panjangnya bisa tergerai sempurna. bahkan ada teknologi hair extension yg bisa mbikin rambut menjadi panjang seketika. tring!ajaib nian. ironis, sementara gw berrambut panjang sebagai akibat dari malasnya pergi ke salon untuk potong rambut. sungguh aneh memang.

*rambut panjang yang tergerai