July 15, 2009

Poffertjes

matahari baru muncul lagi setelah sepagian hujan, menimbulkan silau di jalanan yang basah. cipratan air sedikit sedikit mulai mengotori sepatuku setelah berjalan kurang dari satu blok. itu dia tempatnya. terlihat hangat dengan tembok batu bata merah yang kentara. kusen kayu warna coklat tua, dan bentuk jendela yang vintage dengan trotoar dan jalan tertutup paving block abu yang menciptakan suasana tentram. kuhirup sedikit hawanya. hawa sejuk Bandung terasa kental. untuk sore ini, bau hujan menambah sejuk aromanya.

sambil meraih pergelangan tanganku dan menaikkan sedikit jam tangan yang tiba-tiba terasa longgar di pergelangan kiri, aku terdiam beberapa jenak di depan pintu cafe. kuatur nafas yang iramanya bertambah cepat seiring jarak yang semakin dekat dengan pintu di depanku. ehm ehm...kucoba mengendurkan tenggorokan yang nyaris tercekat ini sambil melirik ke atas daun pintu. 'Poffertjes' begitu bunyi tulisan coklat tua di atas plang berwarna khaky. tring...aku disapa bunyi lonceng kala kudorong pintu cafe perlahan dan langsung kucium aroma khas cafe ini. setauku, ini aroma adonan kue yang terpanggang bercampur aroma kopi.

kulirik sepatuku sekilas. sol karet putih di bawah bahan kain bermotif kotak-kotak kecil warna kopi ini terlihat kotor akibat cipratan ketika aku berjalan tadi. langsung aku menghampiri pelayan terdekat yang berdiri mematung di dekat pintu masuk, dan meminta tissu padanya untuk membersihkan sepatuku. tampak lebih baik. warna putihnya sudah terlihat putih kembali. sambil masih menunduk berusaha membersihkan sepatu sedikit lagi, ku edarkan pandanganku mencari sosok orang yang akan kutemui. kulirik jam tanganku. pukul 3.40 sore. dia pasti sudah datang. dia tak pernah terlambat. cafe kecil yang layoutnya cukup terbuka ini memudahkanku mencarinya, ditambah lagi cafe tidak begitu ramai saat itu. kudapati sosoknya di pojok ruangan. duduk di sofa kecil ukuran single yang menempel ke tembok dan sedang menatap jalan melalui jendela di sebelahnya. dari sini, bahkan dalam keadaan setengah berdiripun, aku dapat melihatnya.

setelah membuang tissu bekas, aku berjalan pelan kearahnya sambil berusaha meyakinkan diri akan sosok yang kulihat. itu benar dia, aku tahu persis. rambut panjangnya yang pertama menarik perhatianku. masih tetap panjang, kali ini terurai bersama poni nya yang juga sudah panjang melewati mata. dia memang tidak suka berponi sebenarnya. entah apa yang dilihatnya diluar sana, aku melihatnya menaikkan ujung bibir tersenyum. senyumnya yang sudah lama tak kulihat. senyum simpulnya yang terkadang terlihat sinis. dia mengenakan t-shirt hitam lengan panjang berkerah V dengan dada rendah. di lengan kursinya aku lihat ada bahan abu-abu tua tersampir. pasti itu jaketnya. hitam dan abu. sangat dia sekali.

beberapa langkah sebelum aku sampai di mejanya, dia menoleh ke arah aku datang dan dia berdiri. sosoknya terlihat lebih kurus dari kali terakhir aku bertemu dengannya. lebih dari setahun silam. aku terhenti karena dia menatapku tajam. seperti biasanya dia yang terlihat angkuh. lima detik setelahnya, dia mulai mencair. senyum sedikit demi sedikit terkembang dari bibirnya. dia cantik. dia beringsut sedikit dari mejanya. menungguku menghampirinya. aku tak dapat mengatur lagi ekspresiku. mungkin senang berbinar, bercampur grogi seiring semakin dekatnya aku dengannya.

'hai...'

suara rendahku hanya mampu mengeluarkan kata itu. aku tersenyum padanya.

'uhm...hai...A...dit...'

dalam kekakuannya, dia mampu mengeluarkan 3 kata. ah, sangat dia. selalu berhasil mengeluarkan kata yang lebih banyak dariku. dia mendekat kearahku. yang hanya tinggal berjarak beberapa centi dari mejanya. deg. detak jantungku tak karuan. harum tubuhnya mulai tercium. harumnya masih sama. parfumnya masih beraroma segar seperti dulu.

sekarang dia berada tak berjarak d depanku. meraih ujung jaketku yang tak terkancing. tatapannya aneh. ada sejuk, hangat, tajam, itu semua mungkin yang tercampur di dalam matanya yang coklat tua. dia mengggigiti bibirnya. kebiasaannya yang tak pernah hilang. aku tersenyum lagi padanya. ada yang terasa di perutku. desiran halus itu, muncul lagi. rasa itu...rasa rindu aku akan dirinya. aku kangen pada sosok mungil perempuan di hadapanku ini. tak kuasa lagi aku dapat berdiri mematung dalam keadaan seperti ini. aku kini memeluknya. merengkuhnya sambil melepas semua rindu. jiwa laki-laki ku menang. aku semakin mempererat dekapan ini. terasa hangat seperti biasa ketika aku memeluknya. kepalanya terbenam di lenganku. tingginya tak lebih dari bahuku. dia menelungkupkan wajahnya di ketiakku. membauinya seperti yang biasa dia lakukan bila berada di dekatku. wangi rambutnya tak berubah. masih wangi mint segar seperti dulu. mencium harumnya membuatku memutar memori lama bersamanya. 'aku kangen...' dia berbisik pelan. sambil terus memeluknya, kali ini aku membiarkan dia mengendus ketiakku. kebiasaannya yang satu ini memang janggal, dan biasanya aku jengah kala dia mulai ingin mengendus ketiakku. memang kebiasaan yang aneh. mengingatkan aku pada kucing peliharaanku di rumah yang senang mencari celah celah di pangkuanku sekedar untuk menghangatkan diri. dia pun seperti kucing itu, bila dia sudah menemukan lenganku. menelungsupkan wajahnya ke ketiakku. aku tak jengah kali ini. ini memang 'sangat dia'.

setelah beberapa detik yang terasa lama, dia melepaskan pelukanku. tersenyum padaku dengan malunya. dia yang angkuh bisa juga tersenyum malu seperti ini.

'Adit kamu apa kabar?'
'baik Ra...'
'duduk yuk'

dia berkata sambil berlalu, kembali duduk d kursinya dan memanggil pelayan untuk meminta menu. kulihat sudah ada secangkir cappucinno yang tinggal setengahnya. disampingnya ada 2 potong waffle yang belum tersentuh. dia pasti sengaja menyisakan ruang di lambungnya untuk poffertjes. biasanya wafle itu akan habis dalam sekejap setelah ditaruh di meja bersamaan dengan minuman favoritnya di cafe ini, secangkir cappucinno bertabur cinnamon yang datang bersama waffle beraroma jahe yang samar. aku memesan teh hangat. dan tentu saja satu sepiring poffertjes. konon inilah poffertjes paling enak di Bandung. poffertjes dengan resep asli Belanda, yang sudah populer di Bandung sedari jaman Belanda dulu. cafe ini pun akhirnya memilih nama poffertjes, karena poffertjesnya yang populer itu.

aku masih ingat matanya yang begitu berbinar saat aku secara tak sengaja menyuguhkannya poffertjes ala cafe poffertjes sekitar 8 tahun silam. dia bilang baru kali itu dia merasakan poffertjes yang sesungguhnya poffertjes. mulai saat itu dia menyukainya. aku pun demikian. melihat binar senang dari matanya, secara tak sadar aku pun menjadi penggemar poffertjes. dan poffertjes selalu mengingat kan aku akan dirinya. matanya yang bulat berbinar tampak seperti poffertjes. dia menyukai gula halus yang bertaburan di atas poffertjes. selalu dia habiskan tak bersisa. tak sungkan dia menjilati jarinya yang penuh gula halus. aku selalu menyukai pemandangan itu. saat itulah wajahnya teduh. seperti anak kecil. keangkuhannya seakan terserap poffertjes yang dimasukkannya ke mulut dengan sekali telan setiap satu poffertjes. Rana, perempuan kurusku yang rakus.

'kamu apa kabar Ra?'
'uhm...baik...'

sedikit heran dengan jawabannya yang singkat. kecerewetannya, berganti dengan tatapan yang mengarah tepat kedalam mataku. dia menyilangkan tangannya di atas meja. tulang-tulang bahunya selalu tampak lebih menonjol kurus dalam posisi itu. tak lama dia menopang dagunya dengan sebelah tangan. lengan kanan bajunya turun sedikit. gelangnya terlihat. gelang kayu coklat tua. terdiri dari 33 bulatan kecil yang dijalin dengan tali hitam. dia bilang itu biji tumbuhan, tapi aku tak pernah ingat namanya. dan aku selalu menyebutnya kayu.

'gelangnya kaya kenal Ra...'

aku berusaha mencairkan suasana yang kikuk. kuangkat tangan kananku, menopang dagu juga seperti dia. berdua kita setengah tertawa melihat kami sama-sama memakai gelang yang sama. Rana membelinya ketika dulu dia bekerja di Kalimantan. dibelinya sepasang, harganya lima ribu rupiah satu gelang. dan dia sendiri yang memakaikan nya di tanganku dulu. 'ini Dit, km kan suka pake gelang-gelang kaya gini. nih aku jg pake'suatu ketika dia sedang berlibur di Bandung. dengan mata bulatnya yang berbinar, saat itu dia melucuti gelang yang sedang kupakai dan menggantinya dengan gelang ramping itu. di tangan kananku.

sungguh, aku terjebak dalam masa laluku. aku terjebak dalam kenanganku bersama Rana yang semuanya indah. aku kangen tawanya. aku kangen marahnya. aku kangen melihat wajahnya ketika dia kesal dan bibirnya mengerucut. aku kangen jahilnya dia. aku kangen cubitannya di perutku yang tak jarang sampai meninggalkan bekas. kali ini dia terlihat lebih dewasa. pembawaannya lebih tenang, tidak seperti dia dulu yang tidak pernah bisa diam.

'ko sekarang jadi pendiam Ra?'
'dari dulu juga aku emang pendiem ko'
'hahaha iya ya...Adit tau, dulu kamu emang pendieeeem banget'
'hehehe...'

mendengar sindiranku, tawa lepas itu akhirnya keluar darinya. aku pun ikut tertawa. saat saat seperti ini yang bisa membebaskanku dari dunia. saat tertawa lepas bersama Rana karena hal-hal kecil yang jauh dari penting. begitu sederhana, namun menimbulkan perasaan bahagia luar biasa. Rana, hanya dialah yang bisa tertawa selepas ini di depanku. tak pernah peduli sekeliling. setiap kami tertawa, baginya hanya ada aku dan dia penghuni kota Bandung yang sedang menikmati kebersamaan nan indah itu.
poffertjes datang. bersama pesanan teh hangatku yang disertai sejari batang cinnamon saat Rana selesai tertawa. matanya mulai berbinar mengikuti sepiring poffertjes yang diletakkan sang pramusaji ke atas meja. belum lagi pramusaji selesai meletakkannya di atas meja, jari Rana tengah bersiap mencomotnya. momen ini yang aku tunggu dari tadi. blup. satu poffertjes berhasil ditelannya sekaligus dalam hitungan kurang dari tiga detik. mulutnya menggembung penuh dan tersisa sedikit gula halus di bibirnya. bibir penuhnya yang kali ini berwarna jingga tipis.

'pelan-pelan Ra, nanti keselek...kebiasaan deh!'
'hehehe...iya, biasa..poffertjes effect...'

sempat-sempatnya dia memamerkan gigi-giginya disaat mulut penuh makanan, dan melanjutkannya dengan mejilati jarinya yang penuh gula halus. kucolek sedikit gula halus dari piring poffertjes. dan menjawel hidungnya. sekarang hidungnya putih terkena gula halus. lagi, Rana hanya nyengir. sibuk menikmati pofffertjes hingga tak sempat marah dengan keisenganku. Rana membalasnya. dia tusuk poffertjes penuh gula dengan garpu, dan mendekatkannya ke pipiku. selanjutnya dia membedaki wajahku dengan poffertjes yang penuh gula halus. aku hanya bisa pasrah ketika poffertjes itu mengelilingi mukaku dan berakhir di bibirku kemudian ku telan. kembali kami berdua tertawa. kali ini dengan mulut penuh poffertjes dan wajah putih dengan bedak gula halus.

'eh, Adit kesini naek apa?bawa si hitam?'
'gak Ra, Adit bawa si merah. tadi hujan'
'mana?'

Rana melirik keluar jendela mencari sosok si merah, mobilku.
'Adit taro gedung parkir. terus kesini jalan dikit.'
'hooo...eh sepatu udah di bersiin blm Dit?kan jalannya becek tuh..hehe'
'hehe...udah Ra, tadi disitu tuh, minta tissu ama Mas yang itu'
'sekalian aja Adit bersihin sepatu aku...hehehe'
dia masih ingat aku yang gila kebersihan. dia ingat kebiasaanku membersihkan segala sesuatu bila terlihat kotor. sepatu, motor, bahkan mobilku yang harus langsung kubersihkan bila terkena cipratan air. obrolan dan candaan akhirnya mencair bersamaan dengan kenikmatan poffertjes yang sudah menghipnotis kami berdua. selalu, poffertjes membuat kami lupa segala hal. hingga Rana kini melunak dan yang tersisa hanya keriaannya menikmati poffertjes. aku menghela nafas lega. Ranaku, terlihat sungguh indah dihadapanku kini. gerimis diluar mulai turun lagi. iramanya turut bersenandung bahagia bersamaku dan Rana. sungguh adegan sederhana namun sempurna, terbingkai kaca jendela yang mengembun. Tuhan, hentikan saja adegannya sampai disini. disaat rasa ini tercurah hanya untuknya, si perempuan kecilku.

poffertjes kali ini terasa lebih manis. hangatnya teh cinnamon tak mampu menyaingi hangatnya hati yang terselubung haru.

'andai Adit bisa terus ada disini, Ra...'

3 comments:

TIZAR AZIZ said...

udah lama gak baca blog-nya agni,,,ohoho sekarang gaya penulisannya berubah ho?
asa baca novelnya ayu utami...hehe ;p

Agni Giani said...

hai zar, kmn aja?heu...
berubah gmn gt zar?perasaan mah sama aja hehe...
ayu utami?hope i can be as 'big' as she is :D amin

Aniek Handayani said...

Gara2 baca ini ak jadi penasaran bgt ama si poffertjes...
Inget bgt waktu vacation maksa Pak Suami keliling bandung buat nyari... wkwkwkwk...