July 31, 2009

Senja Kala Itu

suatu senja di kota Bandung...

'tolong pergi jauh dari aku. lebih baik kita ga usah lagi berhubungan, ga ada lagi telpon, ga ada lagi sms, chating ataupun email. kita harus benar2 jaga jarak sekarang.sejauh-jauhnya! jangan lagi ganggu aku...'
'...'
------

Adit
mimiknya berubah. mata bulatnya berkaca. airmata itu sudah pastilah akan tumpah sebentar lagi. dia hanya memandangku tajam dan dalam. ada sebersit amarah. rahangnya mengeras. aku menunggu reaksinya atas perkataanku tadi. tapi dia hanya pergi. sejurus kemudian membalikkan badannya meninggalkan aku. dan tanpa berkata apapun. tanpa mengeluarkan suara apapun. aku dibuatnya heran. saat itu mungkin yang pertama kali dalam hidupnya dia tak lagi membantah. untuk pertama kalinya dia tidak mendebat segala yang aku katakan padanya. sedikitpun dia tidak. apa artinya ini? apakah itu Ya, atau Tidak?

diam adalah hal yang bukan dia sekali. tak membantah ataupun tak mendebat, itu bukan dia sama sekali. dia adalah yang suka mendebat, cerewet, tak mau kalah, jago menyangkal, semangat untuk membantah sampai siapapun lawan bicaranya terdiam dan mengaku kalah. bahkan kali ini aku sudah mempersiapkan jawaban demi jawaban bila seandainya dia mendebat. tapi dia tidak. lalu ada apa dengan dia hari ini?

mendadak, bulir-bulir sesal muncul di benakku. apa yang tadi aku katakan pastilah terlalu kasar. ah bukan, biasanya dia senang dengan kalimat kontroversi dan provokasi sejenis itu. bukan karena terlalu kasar. entahlah. kini aku hanya diam mematung, memandang rambut panjangnya yang semakin jauh pergi. dan dia pergi berjalan santai. tidak lari atau berjalan cepat seperti biasanya dia.

'aku yang memintamu untuk pergi. tapi aku juga yang merasa sangat kehilangan. bahkan mulai saat ini, ketika kamu baru sepuluh langkah menjauh.'
Rana
dia bisa saja menampakkan ekspresi marah. suara membentak dan terdengar kasar. tapi matanya, tak bisa menyembunyikan isi hatinya. aku bukannya merasa terlalu percaya diri akan hal ini, tapi aku selalu yakin (paling tidak menyimpan keyakinanku) kalau di hatinya itu selalu masih ada aku. bahkan detik ini, saat dia memintaku untuk pergi menjauh darinya.

apalagi yang harus aku katakan padanya, bila hal ini bukanlah kali pertama dia memintaku untuk menjaga jarak dengannya. namun ada yang beda dengan yang sekarang. kali ini aku memilih untuk diam. diam dalam artian benar-benar tak mengeluarkan sepatah katapun. jangankan untuk mendebatnya, bahkan mendengus kesal saja aku tidak. hari ini aku tidak seperti aku yang biasa. aku rasa alasannya karena aku sudah lelah. lelah untuk selalu mendebat kata-katanya hingga dia menyerah, dan aku merasa menang. kali ini aku biarkan dia. dengan segala keinginannya, dengan segala ego dan pendapatnya. terlebih untuk mengabulkan permintaannya. kali ini saja.

aku bahkan tak bisa marah, seperti aku biasanya. menangispun, aku hanya tiba di pelupuk mata. kuhela nafasku yang cukup berat. kali ini tanpa berkata, aku pergi darinya. membalikkan badan seketika dan tidak berjalan cepat. kuatur langkahku pelan, santai, dan menikmati setiap inci jarak yang semakin memisahkan aku dan dia. kali ini aku tidak berlari. karena tak ada lagi yang akan aku kejar. kali ini aku berjalan perlahan, menanggalkan sedikit demi sedikit sisa cinta yang ada untuknya. ambillah semua, aku tidak butuh lagi.

'kamu yang memintaku pergi, maka aku akan pergi. ini akan menjadi kehilangan yang terakhir bagiku. setelah jarak sepuluh langkah, semua cinta akan tanggal sempurna.'

No comments: