December 6, 2009

'it' day

Bandung pagi ini, jalanannya masih mengkilap dan dapat memantulkan cahaya matahari akibat sisa hujan semalam. Sengaja saya membuka jendela mobil demi menghirup wangi rumput basah ketika melewati padang yang lengang di dekat kantor Pemkot. Saya selalu suka wangi rumput basah dan tanah sisa hujan.

mba,dah dmn?cptan mb klo bisa
sender: ayu-chan

rana...udah dmn sayang?
sender: Mbak Putri


Dua sms masuk berbarengan. Sama, keduanya menanyakan keberadaan saya saat ini. Harusnya saya memang sudah tiba di tempat 5 menit yang lalu, tapi nyatanya saya masih dalam perjalanan dan baru akan tiba 5 menit lagi. Ini pertama kalinya saya terlambat. Sengaja menterlambatkan diri lebih tepatnya. Bukan tanpa alasan, tapi alasan yang ada pun terdengar terlalu mengada-ada.

iya, otw. sbntr lg sampai
sent to: Mbak Putri, ayu-chan


---

Saya mematut diri di depan cermin yang sudah buram di setiap pojokannya. Kebaya putih gading dengan potongan sederhana berkerah standar. Bahan brokatnya membuat tampilan saya klasik. Tak ada payet, hanya sebuah bros bunga berwarna emas di tengah, tepat di kancing pertamanya. Kain batiknya pun berwarna dominan coklat dan berpola khas Solo, sidomukti. Sederhana, klasik, tapi cukup elegan.

Ra, dmn?
sender: Mbak Putri

sdh sampai. toilet mba...

sent to: Mbak Putri


'Rana!ayo...' tiba-tiba mbak Putri muncul di pintu toilet, mengagetkan saya yang masih berdiri di depan cermin. Last touch, saya oleskan sedikit lip gloss berwarna mocca.
'iya mbak, sampun iki. ayo...'
'hey, you looks great...'
'thx. but sorry, saya gak pake kebayanya'
'wes...ndak papa'

Mbak Putri tersenyum mendengar permintaan maaf saya karena tidak pakai kebaya dan kain yang 2 minggu lalu dia beri. Sudah di jahit, and so fit on me. Tapi kemarin malam saya memutuskan untuk tak memakainya dan lebih memilih kebaya ini (so sorry Mbak, saya gak bisa pakai kebayanya, apalagi untuk hari ini. on one of my 'big' day). Mbak Putri tampak tak sabar, menarik lengan saya untuk mengajak berjalan dengan sedikit lebih tergesa. Rasanya sudah cepat, tapi karena memakai kain kami berdua jadi kesulitan berjalan.

'mbak mbak, ayo cepetan ih!'
Ayu berteriak memanggil kami. tinggal beberapa meter lagi kami sampai. Ayu, dia tampak cantik dengan kebaya birunya. Payet hijau di sekeliling leher, kedua bawah lengan dan bagian bawah kebayanya memberikan kesan dewasa pada Ayu. Kebaya yang dikenakan Ayu sama seperti kebaya yang Mbak Putri pakai.

---

Mesjidnya tidak terlalu besar, tapi tidak juga kecil. Nyaman dan bersih. Warna hijau mendominasi. Kaca-kaca patri di tiap jendelanya menimbulkan cahaya berwarna-warni yang dipantulkan dari matahari di luar jendela, saya suka suasananya. Semua sudah duduk bersahaja. Tidak ada tawa, tidak terdengar candaan, sekalipun berbincang dalam suara yang sangat pelan, nyaris berbisik. Para prianya berkopiah, sebagian wanitanya berkerudung, dan semuanya duduk bersimpuh di atas permadani yang juga hijau. Ditengah bagian mesjid sudah tersedia sebuah meja kecil dengan tinggi kira-kira 40cm dan panjangnya pas untuk 2 orang dewasa duduk berdampingan. Duduk dibalik meja kecil telah siap seorang Bapak setengah baya yang berkopiah. Rapih mengenakan jas coklat tua disertai dasi merah marun di atas kemeja kakinya. Beberapa pria di sekelilingnya telah siap juga. Suasana seperti ini sudah sering saya temui, tapi kali ini menimbulkan perasaan yang berbeda. Dan saya tahu persis perasaan apa itu.

Adit melihat saya datang. Senyum kecil mengembang di bibirnya. Saya balas senyumnya, dan mengangguk pelan. Adit mengangguk juga, dan setelahnya dia melangkah menuju meja kecil tempat Bapak tadi menunggu kemudian dia duduk bersila. He never been looks so damn great before. Saya sangat mengenal wajah itu. Wajah tenangnya hari ini terlihat lebih bersih. Matanya seteduh biasanya, dengan sorot yang lebih sayu. This day should be the one of his most happiest day in life.

Saya duduk bersimpuh di apit Ayu dan Mbak Putri, menghadap langsung ke sisi kanan Adit tak jauh dari tempat Adit duduk. Bapak tadi mengucapkan beberapa kata sambutan, yang saya tak bisa jelas mendengarnya. Berlanjut dengan suara seorang wanita muda yang entah sedang menyampaikan apa, tapi karena pidatonya, beberapa orang mulai terisak. Saya menajamkan pendengaran saya ditengah suasana hening ini untuk mendengar pidato si wanita muda itu, tapi rasanya saya mendadak tuli. Suara di sekeliling saya tidak jelas lagi terdengar. Pun saya tak dapat melihat adegan demi adegan yang terjadi dengan suara latar yang sepertinya penuh haru, karena sedari tadi saya hanya dapat menundukkan kepala. Selainnya, saya hanya memandangi jari jemari saya yang terpaut satu sama lain, meremasnya, hingga terasa dingin dan mulai berkeringat. Untungnya oksigen di ruangan ini cukup membuat saya masih dapat bernafas normal.

Sebuah tangan menggenggam saya. Mbak Putri. Dia menggenggam tangan kiri saya begitu eratnya. Saya hanya bisa meliriknya pasrah, ketika dia melemparkan senyum simpulnya.
'kuat ya Neng... Rana kamu pasti kuat...' mbak putri berbisik pelan di samping telinga saya. Bisikan Mbak Putri membuat saya memberanikan diri untuk mengangkat kepala ini. Memandangnya, memandang Adit yang gagah sekali dengan setelan jas hitamnya dan kopiah hitam bersalur perak. Dit, have I told you that you always look great even when you just woke up from your nightmare? Giliran Adit sekarang yang berbicara. Menatapnya dalam keadaan begini, kembali membuat kedua mata saya terasa panas setelah bertahun lamanya tidak pernah begini. Saya tahu persis yang akan terjadi selanjutnya setelah ini, pada saya dan pada Adit.

'saya terima... nikahnya.....'

15 comments:

Ka-el said...

Agniii...this is beautiful....love it..love it..love it....
!! really-really-really good...berasa baca ceritanya sambil nongkrong di deretan buku2 di gramedia..trus dalam hati langsung mikir.."mm...pengarang yang dulu aku kenal..tulisannya makin keren aja...beli ah ..."hehehe...
love it...

Agni Giani said...

Eliiin, i takes it as a compliment ya... hihi

Neng Lia said...

uhuy neng keyennnnnn.....;)
nanti gw ikut kontribusi nulis komen di buku lo deh (*kan ceritanya yang nulis komen itu orang2 terkenal biasanya kalo di buku2 hehehe tetep gak mo kalah ngeksis :P)

Agni Giani said...

nama lo di ucapan terimakasih aja neng..kekeke ;p

Yulia said...

tega nian ga mau cerita endingnya kayak gimana..heuheu

Agni Giani said...

yuuuul, blm ada ide bwt endingnya :D
any idea? heheh

anggun oktari said...

nice story, ni :) dtunggu sambungannya, penasaran yeuuh hehehe :)

Agni Giani said...

gak ada ketang gun, ga ada sambungannya hehe :D

SangPutri said...

Bguuuusss :)



Oneng.. Nama gw ada disitu ihiyyy senang.. Tp plis de itu nama tokoh utamanya bukan terinspirasi dr Riyami kan hwakakaakkakaak..

Agni Giani said...

hehe iya, pinjem namanya yee neng...
tentu saja bukan dr Riyami, tp Rana dari Kirana..wkwkwk

r41n6l0w said...

meski pendek tapi....
kuereeen Ni...hehehehe...

mana atuh karya kumplitnya??
sapa tau bisa aku ajuin nih..:)

Agni Giani said...

@uwie: blm ada kumplitnya euy hehe

r41n6l0w said...

iya bisi udah punya kumpulan cerpen atau bahkan novel ataw apapun...
sapa taw bisa diterbitin nih, hehehe...

Agni Giani said...

hihi pinginnya siyh gitu wie... hobi aja ini mah, blm ditekuni :D

Adit B Goode said...

kalo yang laen pada komen bagus2, si aku bad cop aja ya... hahaha...
pertanyaan :
1. pemkot mana? cimahi?
2. nama penghulunya siapa?
hohoho...

komen :
oke lah ni klo emang pendek ceritanya (meureun). tapi mungkin lebih oke lagi klo ambience nya lebih ditekankan (semacam menghipnotis pembaca biar apa yang dipikirkan penulis en pembaca jadi sama). konsekuensinya sih tulisan jadi lebih panjang. hohoho...
duh, SOP na keur tesis keneh yeuh urang, jadi lieur...
kekekeke...