August 5, 2010

mendakilah, mungkin lelahnya akan berganti

hari ke-5

airmata rasanya sudah banyak keluar. tp kenapa tidak mengering juga. sirkulasi banyaknya asupan air dan keluarnya airmata ternyata tidak ada kaitannya. mau kamu dehidrasi sekalipun, bila lukanya masih terasa, ya masih mengalir lah airmatamu. dan masih bisa deras.

---

untuk pertama kalinya setelah 4 minggu terakhir, minggu pagi ini cerah. matahari tak lagi malu-malu, awan untuk sementara istirahat dulu. justru di kala hari cerah seperti inilah, aku bersepeda sendirian. bukan lagi batal bersepeda karena hujan, atau Sang Peneman bersepedaku yang sampai bermalam di kantor karena lembur, bukan karena itu. melainkan karena, aku sekarang sudah sendirian (lagi). hey Sang Peneman, akhir pekan ini adalah pekan terakhir sebelum Ramadhan, tidak hujan tak pula dirimu lembur. harusnya kita sedang bersepeda mendaki bukit. bukit dengan tanjakan bersudut 40derajat, yang pernah membuat aku mengap-mengap kehabisan napas, dan pernah membuatku oleng dari sepeda. dan berlanjut bubur ayam di lapangan merdeka. sayangnya tidak bisa lagi begitu bukan, karena kita sekarang sudah jalan sendiri-sendiri (lagi).

6.30, segera saja aku keluar rumah tanpa sarapan. mengayuh sepeda sejadi-jadinya di tengah jalanan minggu pagi yang masih lengang. dalam waktu hampir 20menit aku berbelok ke arah bukit. bukit yang dulu bikin aku oleng dari sepeda, dan meninggalkan memar berhari-hari di sekitar lutut kanan. kali ini aku naik bukit tanpa ada berhenti sekalipun, pun tanpa oleng dari sepeda, tanpa minum dulu, dan tanpa teman. sampai di puncak bukit, aku belum merasa lelah, tidak capek, tidak panas, belum ingin minum. aku masih ingin mendaki bukit kedua yang tanjakannya lebih curam. aku kesana. berpapasan dengan beberapa pesepeda yang berkelompok. aku sendirian. mengayuh sepeda sejadi-jadinya. sampai ke puncak bukit kedua. aku tidak kehausan. aku belum ingin minum. ingin mengalap udara sejuk yang disediakan alam, sedalam-dalamnya. harusnya begitu, tapi napas tak lagi bisa normal. terasa air asin mengalir ke bibir.

robohlah aku. sendiri dan sedih di tengah-tengah bukit berhutan yang orang bilang angker. melemparkan sepeda, helm, water bag, ingin pula rasanya menanggalkan dan meninggalkan hati yang sudah tak bisa lagi mendapat oksigen. hampa.

aku kira kelelahan karena bersepeda akan menggantikan lelahku akan kejadian 5 hari lalu. aku kira lelahku bersepeda ini akan menguras begitu banyak energi sehingga tak ada energi lagi bersisa untuk menangis. tapi ternyata, regulasinya tak begitu. tidak pernah bisa begitu. meski kita bertukar posisi, efeknya akan sama. hari ini aku tetap akan berada di tengah antah berantah, merasa semakin lelah dan sakit. maka aku harusnya bisa lebih mengerti bagaimana dirimu saat ini. mengerti jika ini juga sama beratnya untuk kamu.

---

rumputnya masih basah, sisa hujan semalam. ingin berbaring saja disini. menguapkan sakit, melebur rindu, menahan harap, dan menunggu kamu datang menemukanku.
dan semuanya akan kembali seperti dulu lagi.
kita yang sedang bersepeda bersama...

3 comments:

Fathia said...

fathia suka ini teh. sebulan lalu pun saya mengalami ini,dan berharap seperti kata teteh "menguapkan sakit, melebur rindu, menahan harap, dan menunggu kamu datang menemukanku". tapi sayang'a itu hanya harap semu fathia. semoga teteh ga kaya fathia.

S U R R E N DE R said...

patah hati bikin kreatip yah..
hhehehhehe..
piss ah..

Agni Giani said...

@fathia: thx klo suka. cheer up ya fathia klo mmg pernah ky gini... :)

@ufien: terserah pembaca menyimpulkan...hehe