February 27, 2011

[tips] ironing for dummies

Kalau boleh memilih pekerjaan rumah, saya memilih mencuci piring atau mencuci baju. Pilihan terakhir akan jatuh pada menyetrika. IMHO, nyetrika itu mbikin gerah, membosankan, dan bikin mengantuk. But i have some tips n trick untuk membuat acara nyetrika jadi lebih 'nyetrika' dan menyenangkan (untuk jenis nyetrika yg banyak, klo satu dua setrikaan doang sih gak perlu pk tips n trick laaah).

berikut beberapanya...

1. preparation is a must. siapkan tempat nyetrika yg comfort, cozy, yang bsia bikin betah untuk berjibaku dengan si setrika selama berjam-jam (klo segunung pakaiannya bisa sampe berjam-jam kan..). hindari menggunakan papan setrikaan yang mengharuskan kita untuk berdiri, pegell bo! klo pun mau pake gituan, usahakan pake bangku yg ergonomis. ngampar di lantai lebih enak. lebih santey... bisa tidur2an jg klo dah kerasa capek. (lho?!)
2. warming-up is important. apalagi kalau posisi nyetrika ngampar dibawah, pemanasan bisa menghindari anda dari kesemutan dan pegal-pegal berlebih.
3. turn-on your AC or fan. ironing is very 'hot' job. alias gerah bangeet cyiin... klo temperatur ruangan nyaman, adem, dingin, suasana nyetrika akan lbh menyenangkan dan menghindari kita dari kebosanan dini dalam menyetrika. (oia, jgn lupa jg mengikat rambut buat yg rambutnya bisa bikin gerah)
4. play-on your music list. cari lagu-lagu yang nge-beat untuk playlist, semaam Step Up OST, atau albumnya The Hole atau album Saturday Morning Cartoon's Greatest Hits, or apapun itu yang menyegarkan otak. agar rasa kantuk terhindarkan. (maap, contoh lagu ko jadul2 yaa)
5. use great iron. setrika mahal gak masalah yang penting hasil setrikaan ciamik. biasanya klo setrikaan murah mencapai panasnya lama n performa kurang mendukung. mahal gak masalah tp awet dan membantu pekerjaan menyetrika kita menjadi lebih mudah. *tsaaah
6. fully consentration. jauhkan twitter, bb, hengpon, dan hal2 lain yang bisa mendistraksi. krn memang hal-hal tsb itu lbh menarik daripada nyetrika. oke oke.


begitulah beberapa lesson learned and best practice saya dalam hal menyetrika. hal-hal tersebut diatas hanya berdasarkan pengalaman saya sahaja. meski begitu, dengan ditambah niat yang kuat dan keinginan luhur untuk merapikan tumpukan baju-baju kusut dari jemurann, insyaAllah... pekerjaan menyetrika jadi lebih terasa ringan dan menyenangkan.

"Mbooookkk... ini tolong baju-baju di setrikain, saya mau tidur siang dulu yaaa..."

February 26, 2011

mini washing machine

penemuan terbaruuu!! mini washing machine. benar-benar mini untuk ukuran mesin cuci, hanya sebesar dispenser yang pendek. bisa dibawa Jakarta-Balikpapan hand-carry, berat bagasi 6kg.

kapasitas cuci 2kg saja (beberapa potong baju, kira2 bisa 6. atau satu celana kain, 2 kaos, 2 bra, 2 helai kerudung), dengan fitur begitu minimalis. cuman ada timer buat giling selama 15 menit maksimal, that's it! tapi mayan buat gantiin rendam n ngucek manual pake tangan. setiap 5 detik reverse arah putaran (krn rpm kecil kali yak, krn watt nya juga hanya 130).


pas lagi giling baju-baju putih


ukurannya yang kecil cocok untuk anak kos. sehabis pake mesin cuci tinggal dikeringin n bisa dimasukin lagi ke kardusnya.


tampak atas


merk: Fugen, harga 350rb. barang dapat diperoleh di Glodok entah sebelah mananya. yang nemu n beliin teman saya Putri (thx ya Neng... masih ngutang separo pula ;D )

February 25, 2011

my boss(es) and me

Sebagai akibat dari postingan saya sebelumnya - foto bersama boss ca'em - saya jadi buka-buka foto dengan teman-teman kantor. Dan nemu lah beberapa foto peninggalan waktu saya ngantor di Jakarta. Spesial saya upload adalah foto-foto dengan boss - yang tak kalah ca'em nya ama boss yg skrg - hehehehe...


with Grant (duh, grant siapa yak namanya? :D) used to be my big boss at Jkt;
on my last day before I transfered to Balikpapan



with Lee Dolman, boss waktu di Jakarta dulu.
Dia ini yg interview saya n pd akhirnya nge-hire saya :D


ganteng-ganteng kan yaaah.... hihihi :p

mon patron, mon idole


Je presente l'homme le plus recherche dans mon bureau.
Il s'appelle Paul Cartier, mon patron.


kesian ya dia, lelaki-gagah-nan-mapan-serta-ganteng-meski-sudah-berumur tapi punya anak buah krucil2 macam begini... xixixi

February 18, 2011

Berbagi Impian


Ada kah hal yang belum kita sempat bagi bersama? Ada kah aku yang belum mengungkapkan semua impian dan anganku padamu? Ketika semua mimpiku, cita-citaku, keinginan terbesarku sudah pernah aku bagi kepadamu. Ketika harapanku adalah bersamamu mewujudkan mimpi-mimpi itu. Mimpiku, mimpimu, mimpi-mimpi kita. Sudah mulai kita rajut bersama jalan menuju kesana. Ada kah impianmu yang belum sampai padaku?

Berbagi mimpi bersamamu, itu bukan hanya menceritakan angan dan impianku. Berbagi mimpiku padamu, adalah harapan. Harapan kelak suatu saat mimpi itu benar akan terwujud. Tahap itu, saat dimana kamu melayangkan mimpiku menuju jalan kenyataan. Meski jauh di angkasa, namun serasa mudah dicapai. Karena aku membaginya padamu. Begitupun kamu. Impian besarmu itu, serasa mudah untuk kita wujudkan suatu hari nanti. Kamu yang selalu positif dan optimis, aku yang selalu punya seribu cara membuat jalan menuju perwujudan impian itu. Kombinasi yang sempurna, bukan?

Mimpiku, mimpimu. Tak ada yang tak mungkin. Kamu meyakinkan kelak aku pasti akan bisa mewujudkann mimpiku. Mimpi sederhana menjadi seorang guru TK dan punya sekolah sendiri - TK dan playgroup. Kamu membagiku cara menujunya. Membangkitkan hasratku akan mimpi itu yang telah padam dan putus asa. Begitupun impianmu membangun tuneshop. Yang meski aku perlu dijelaskan berkali-kali apa kah tuneshop itu, tapi aku dengan sepenuh hati mendukungnya. Menyetujui rencana-rencanamu menggapainya, senang dengan impian besarmu itu, dan tak lupa memberi beberapa masukan untuk jalan menuju kesana - meski mungkin terdengar olehmu hanya sebatas kata-kata suportif seorang partner. Kita saling menggelembungkan mimpi-mimpi itu.

Berbagi mimpi itu bersamamu, meningkatkan lagi usaha-usahaku yang pernah terbengkalai. Serasa akan kuraih dengan mudahnya tanpa perlu menunggu lama. Serasa itu bisa kuraih esok hari, saat malam kita berbagi ini tergantikan pagi yang baru dengan penuh harap. Karena setelahnya, setiap pagi datang, selalu kusambut dengan sukacita. 'Impianku semakin dekat akan wujudnya!eurekaaa!'

Melangkah serasa jauh lebih ringan meski dengan impian sebesar gunung es yang menghancurkan Titanic. Karena yakin, impian itu akan terwujud. Suatu hari nanti. Dengan kamu sebagai saksinya. Karena tau, impianmu akan pula terwujud dengan mudah suatu saat nanti, dengan aku disana yang bersamamu menata tuneshop, menemanimu membeli perlengkapannya, melihatmu merekrut pegawainya. Bahkan mungkin aku yang akan berada di balik meja administrasi membantumu merapikan berbagai tetek-bengek keuangan selepas aku pulang dari 'bermain' bersama anak-anak di playgroup.

Such a perfect plan we've made, with a perfect partner i used to have - YOU.

February 17, 2011

Last Poffertjes

Grogi. Tegang. Nervous. Hesitate. Apapun namanya, yang jelas itulah perasaan saya sekarang. Sekali lagi saya menatap cermin. Bayangan penuh sosok saya berbalut kaos tangan panjang warna hitam-seperti biasa. Rambut sudah terurai rapih, sudah wangi, sudah cantik, dan sudah sudah yang lainnya. Sudah siap pergi.

Gerimis kecil menemani perjalanan saya kali ini. Kali ini saya naik angkot - dengan rutenya yang berputar-putar tak efisien, nostalgia sedikit dengan Kota Bandung, angkot, dan jalannya. Tempias gerimis masuk sedikit melewati celah jendela yang tak bisa tertutup rapat. Hawanya dingin menyegarkan. Wangi udara hujan saya hirup dalam-dalam. Saya suka wanginya. Wangi rumput dan tanah yang tersiram hujan, Wangi jalanan basah, wangi udara sehabis hujan. Sensasi wanginya memanjakan hidung, menentramkan.

Pukul 3 lewat 25 menit. Begitu jam tangan berwarna coklat di tangan saya menunjukkan waktu. Saya berjalan pelan menikmati trotoar basah, sesekali mencipratkan air dari genangan kecil sisa hujan - yang untungnya telah reda ketika saya turun angkot. Kurang dari 100 meter lagi dan masih 5 menit lagi menuju 16:30. Ada trotoar merah bata berpadu kerikil hitam yang kali ini tak nampak lukisan berderet di atasnya, jalan yang tadinya aspal kini berganti batu abu, lampu jalan tua yang masih sama, toko buku yang masih antik, dan bangunan dengan dinding bata merah yang tak berplester. Inilah 'Poffertjes', masih dengan papan khaky dan tulisan coklat tua-nya. Masih dengan semerbak kopi yang baru terseduh dan wangi poffertjes yang masih hangat.

---

Undangannya cantik. Kotak persegi panjang berlipat dua yang tak terlalu kecil. Berwarna merah marun dengan tulisan emas, serta hiasan sulur-sulur tanaman rambat di tiap pojokannya, yang juga emas. Merah dan emas. Nama kedua calon mempelai terukir indah di sisi sebelah kiri undangan ketika dibuka. Hari besar itu akan datang juga, tak lebih dari satu bulan lagi. Saya diam mematut undangan. Mencermati setiap detail tulisan yang tertera. Membuka tutup beberapa kali, membolak-balik tanpa tujuan. Perasaan aneh menyeruak. Senang, sedih, terharu, mencelos. Semua campur aduk.
'Rana...'
Suara Adit memecah hening. Memecah 'keasyikan' saya menilik-nilik undangannya. Undangan yang sedari tadi saya tunggu kemunculannya. Demi secarik undangan inilah saya dan Adit bertemu (lagi). Bertemu di tempat yang menyisakan banyak kenangan bagi saya dan Adit. Tempat kencan pertama, tempat yang selalu dituju setelah bertengkar, tempat perayaan hari jadi, tempat kami merayakan momen-momen terpenting dalam hidup kami. Termasuk momen hari ini.
'iya, Dit...'
'kok diam saja Ra?'
Saya hanya bisa tersenyum - yang mungkin dengan ekspresi aneh. Mengingat pikiran ini belum terlalu fokus pada Adit yang berada di depan saya. Kepala ini tiba-tiba terasa melayang. Ingin melepaskan diri dari badan saya. Tuhan, saya sudah menyiapkan momen ini. Menyiapkan serangkaian kata hingga menyiapkan tampilan ekspresi. Prakteknya, mimik ini tak bisa di ajak kompromi. Lupa akan semua yang telah dipersiapkan.
'Adit...'
'ya Ra?'
Saya pandangi Adit lekat-lekat. Banyak yang ingin saya katakan. Banyak yang ingin saya gugat pada Adit. Banyak protes yang saya siap lancarkan. Serta ceracauan-ceracauan lainnya yang ingin dengan segera saya muntahkan pada Adit. Untungnya otak saya dapat berpikir lebih cepat kali ini. Memerintahkan lidah untuk tetap terkontrol dan bibir untuk tetap mengatup. Serta hati untuk tetap terkuasai.
'selamat yaaaa... aku turut senang Dit...'
Senyum saya kembangkan lebar-lebar. Ekspresi telah dapat terkuasai. Seperti yang telah saya persiapkan semalam. Sungguh tiba-tiba perasaan lega memberondong seketika saya mengucapkan selamat pada Adit.
'terimakasih Ra...'
Adit pun tersenyum. Terbersit kelegaan yang luar biasa di balik senyumnya. I know it Dit, itu senyum lega karena ucapan selamat dari saya. Lega akan respon saya yang memberikan senyum gembira untuknya. Ternyata bisa. Saya bisa tersenyum kembali untuk Adit. Sebisa saya bertemu dengannya hari ini dan rasanya biasa saja. Sebiasa saya menghirup udara pagi Bandung yang dingin menusuk. Well... kegiatan menghirupnya yang biasa, namun bukan dinginnya. Tetap ada tusukan pilu disana, menjalar hingga ulu hati. Dingin yang membekas di relung memori. Cepat hilang dari otak, tapi tidak dari asa. Dan biarlah ini demikian adanya. Accepting, not deleting Ra.

We'll meet again, in less than a month. That time will be the execution time. Akan menjadi hari penentuan kemana hati ini akan (benar-benar) melangkah. Yang jelas, tidak lagi melangkah bersamamu, Adit.
'Dit, ini poffertjes paling enak. Poffertjes kita yang terakhir.'


Surat Rindu Untuk Sahabat


Dear Oneng,

how are you there? i hope you're doing good. amin. gue disini juga baik-baik saja neng (fyi :D ), cuman... i miss you so much. i don't know how to tell this to you neng. i really miss you. gue kangen, saat-saat gue maen sama lu neng. ber-gue-elu, ber-aku-kamu. tabok-tabokan, tampar-tamparan, jewer-jeweran, yang udah jadi kegiatan kita sehari-hari. bukan sedang KDPT (baca: kekerasan dalam per-temanan), kita hanya bercanda. meski teman-teman lain melihat kita jadi ngeri sendiri (mana ada orang lagi ketawa-ketawa ngakak tapi sambil tabok-tabokan). but as u said, tabok-tabokan itu pertanda sayangnya kita. berikut ketawa-ketiwi ngakak-ngakakan dan bahasan-bahasan gak penting kita, semuanya itu adalah tanda kedekatan kita. iya neng, gue setuju sama lu. gak mungkin kan sama orang yang baru kita kenal udah tabok-tabokan dan ngebahas hal jayus nan gak penting (yang ada si orang itu gak jadi kenal ma kita...hehe). yes, i do miss tabokan lu neng. i really do.

teringat awal mula kita kenal. waktu itu kita sama-sama di Duri, mengemban 'tugas negara'. lu baru datang dari Jakarta. pake baju ijo garis-garis. rambut di cat merah, dengan aksesoris lengkap, kalung cincin anting. gue kira lu jauh tua diatas gue :D. makanya waktu itu gue panggil lu 'mbak'. ternyata oh ternyata (meskipun lu emang lebih tua dikit dari gue), kesini nya gue manggil lu NENG. terkadang NENG NONG. terkadang NENG NING NONG. terkadang ONENG. terkadang GONENG. padahal lu punya nama yang bagus. sorry for that, udah manggil lu seenak udel gue.

Duri jadi saksi mati atas kegilaan kita. ngobrol ngelantur sana-sini, terjebak kepanasan di commisary tengah siang bolong, jalan-jalan ke pekanbaru, sampe kejadian lu yang ngumpet di kamar membiarkan gue sendiri berhadapan sama si boss. kejadian ketidaksengajaan gue melihat screen komputer yang habis lu pake, screen yang menunjukkan 'rahasia itu'. belum lagi peristiwa gue yang lu pergokin lagi mewek di ruangan, dan gue yang juga pernah mergokin lu lagi mewek. setelahnya, gue gak segan untuk curhat ke lu. ahh... masa-masa 'ababil' itu.

walaupun sehabis dari Duri kita terpisah jarak dan waktu, tapi update kabar darimu jalan terus. chatting, facebook, email. sering juga lu kirim foto-foto. foto di taj mahal, foto di depan base china, foto di hongkong, foto di apartemen dengan kain sari, foto dengan kostum gadis mongol, sampe foto di dalam ruang coba baju di mall. dari foto-foto itu pula, gue liat transformasi lu. dari kurus ke gemuk, ke kurus, ke gemuk, lebih gemuk, agak kurus. hehehe...

suatu hari gue dapet kabar kalo lu akan di transfer balik ke Indonesia. gue yang sangat berharap lu ke Balikpapan, dan lu yang tentu saja ogah ke Balikpapan karena 'satu hal' itu :D. takdir berkata, lu kudu ke base balikpapan. gue menang taruhan, neng! welcome to balikpapan. waktu datang lu lagi kurus, jadi mirip gue. ya itu orang-orang satu base yang bilang kalo lu mirip banget ma gue. rambut panjang lurus, pake kacamata, penampilan baju celana sepatu mirip-mirip pula. sampe seringkali orang ketuker-tuker manggil gue apa lu. gue senang, gue nambah temen gila. temen yang cuman sama lu gue bisa nabok kalo lagi ngobrol. yang cuman sama lu gue klo ketawa bisa puasss banget, berasa gak ada orang d sekeliling gue. cuman sama lu bisa ketawa ngakak dimana-mana yang ampe di pelototin orang (termasuk di marahin cowo gue karenanya).

bukan hanya berenang, shopping, karokean, makan, ato ketawa dan berisik yang kita lakukan bareng. bukan hanya hal senang-senang aja. tapi nangis bareng juga pernah. lagi-lagi karena masalah 'satu itu' (yaaa...sama-sama tau lah ya neng). and i'm so thankful to have you, neng. menenangkan gue kalo lagi termehek-mehek (ah ya, lu yang paling tau ke-cengeng-an gue), sering kasih wejangan-wejangan, sholat berjamaah, sampe tidur berjamaah di apartemen lu. suatu ketika gue sangat down, lu yang peluk gue sampe reda down gue. lu juga yang masakin gue sahur dan masak-masak yang lainnya. sementara, gak ada yang gue pernah kasih buat lu selain kerepotan-kerepotan. kau tak tergantikan, neng.

dan kini, lu sudah ada di jakarta. transfer lagi. akhirnya yang lu harapkan datang juga neng. kembali pulang ke kampung halaman lu. gue ikut bahagia, sekaligus sedih. bahagia atas kebahagiaan lu pulang ke jakarta, tapi sedih karena di masa-masa 'berat' ini gak ada lu disamping gue. doakan gue menyusul lu balik lagi ke base jakarta. amin.

miss you neng. take a good care there. see you somewhere sometimes.
kau yang tak tergantikan, kau yang baiknya tak dapat kubalaskan.
tons of thanks (maybe it's not enough).

yang merindumu sangat,
Neng Agni

February 9, 2011

Static

I've been sitting here for 3 years (and several days). Sitting in a same room, same desk, same chair. With a same computer, same keyboard, same mouse. With a same window, same view, and same wall i faced for every 5 days in a week. There is only one thing different. The people. They're not the same people whom i be with at my first day being here - January 2008. And (unfortunately) that's the thing which creates sorrow for me.

I've been sitting here, in every working days and sometimes in my weekend. I've been watching people come and go. At the first time i came here - to this 6mx4.5m-room with 5 desk available, it was 4 people. Me in one corner, my-beautiful-boss in the other corner and another boss beside her, and my co-worker across my desk. 2 ladies and 2 guys. We still left one desk unattended.

Time goes by... my beautiful boss transfer out. She's been here for almost 5 or 6 years. She kept yelling to her boss to transfer her out. As an International Mobile, she supposed to transfer out every 2 years sitting in one base. So no wonder she kept pushing the boss regarding her transfer. her wish came true. She moved. Transfered out to somewhere in Africa. Left 3 of us. 2 desk was unattended.

After several times, someone came to our room. Be part of our team. At that time, we became 4 people again. 2 ladies and 2 guys. And another one came after, the Algerian lady. She become my boss, my direct manager. At that time, our room was full. 5 desk with 5 people. 3 ladies and 2 guys. Plus my boss' of my boss who was sitting in different room with us. we became 6. 3 ladies and 3 guys.

Time moved... my Pakistani boss moved out. Transfered out to somewhere in Saudi. And another one came after. A Chinese-Indonesian guy. Our room still fully seated. We stayed with this formation for several times. It was great atmosphere i felt. I worked hard and performed. Got promoted to the higher grade and of course higher salary.

Another year passed me by... my co-worker decided to moved into another position in this company. The higher-salary position. A girl came before he left to replace him. I was struggling at that 'transition' time. My co-worker flew out his mind. His body was with us, but his mind was somewhere out there, already in the new position. While the new girl still adapted hard to getting used into our operation. I was like running thousand miles everyday, messed-up with some stuff, and sometimes out-of-focus. my fingers was on the keyboard, my eyes was starring straight to screen, but my mind was somewhere out there.

In the middle of year 2010, the boss' of my boss transfered out after almost 2 years being here with our team. Left 5 of us. But one of us should be sitting at client office. So it was officially 4 people in our room. 1 desk left unattended. The new big boss came after, but he has his desk outthere, on his private room. Still 4 of us in this room.

Several months passed by... the Chinese-Indonesian guy decided to resign. He got another job. the better one for him. Located in Jakarta - which is his hometown, with a higher salary of course. He left all the ladies in this room. Left 3 of us. Our team was all ladies with one French boss. A lady who was sitting in the client office has transfered also last month. She moved to Jakarta base.

See... how people could be such a dynamic. Come and go, while me sitting still. After 3 years, i felt it so painful being stuck here. Feeling all alone. Struggling with the circumstances which has changing randomly. For some other people, 3 years may not be a long term as they do the dynamic job. Going to field, back to town, go on days-off. Back to the field again, back to town, go on days-off. Some others do their job in a workshop. From this tool, to that tool, with this tool, with that tool. to workshop, to the lab.

Unlike me. Only here, here, and here. Same desk same corner. Even, I'm not allowed to change my desk's position - i did once and my big boss ask me to arrange back my desk to the previous position. which is the same position as right now. So 3 years being here, far from hometown, far from family, for me, it's like a rusty iron. I feel saturated. And demotivated. I need a new circumstances. I need a new place close to my home - in case i get bored, i can go home easily to refreshing.

Just send me back to Jakarta, please...

February 8, 2011

twin


a ussual sunday noon @Texas Chicken...

'hiii lucu sekali... liat liat. kembar...'
fried chicken nya terlupakan sementara. perhatian beralih pada sepasang kembar perempuan berumur kira-kira 2 tahun. berlarian, satu mengejar yang lain.
'eh Hun, aku ada turunan kembar lho. dari papa...'
sekarang perhatianku tertuju pada sosok di depanku.
'hoo yaaah??'
pertanyaan penegasan. membutuhkan konfirmasi dia sekali lagi. pernyataannya tadi membuatku berbinar. seakan ada bola lampu di atas kepalaku yang berpijar dengan terangnya.
'bukan hooo...ada turunan kembar...'
ahh becandaan garing a la dia. sambil mengangguk, dia pun tersenyum. lebih dari senyum tepatnya, karena dia memperlihatkan serentetan gigi putihnya. nyengir.

'jadi ntar kita bisa punya kembar Hun...'
dia masih tersenyum, nada bicaranya exciting. tapi kali ini sambil meneruskan makannya. ayam goreng telah mencuri perhatiannya. aku tak berkata-kata. kehilangan kata kalau boleh jujur. kuputuskan untuk melanjutkan makanku juga. aku diam, tak bisa berkata, tapi ada perasaan aneh menyelinap disana-muncul begitu saja. ada getar halus yang cukup membuat dada sedikit tercekat karenanya. senang kah ini? ah entahlah. aku sendiri tak bisa mendeskripsikan perasaan itu. it was a simple conversation. a regular conversation in a regular and casual moment. but i never imagine that it could gave me 'that' effect.

sebelum ini, aku tidak pernah kepikiran untuk punya anak kembar. sekarang, tiba-tiba keinginan itu menjadi harapan. punya anak kembar. dari kamu. membayangkan betapa akan (langsung) ramainya keluarga kita nanti. dan pastinya si kembar akan menjadi anak-anak yang hiperaktif, loncat kesana kemari, cerewet, dan punya segudang hobi seperti (calon) orangtuanya ini.

kuteruskan lamunanku. segala sesuatunya menjadi dua. beli mainan serba double, beli sepeda dua, agar tidak rebutan. stroller tandem dua, bantal guling bayi menjadi dua set, bouncer dua buah (tapi yang ini cukup satu, bisa dipakai bergantian), dua ini, dua itu. ramai sekali jadinya. suara tangis pun tak hanya berasal dari satu bayi. akan bersumber dari dua bayi. bila tiba waktunya breast feeding, bayi satu di tangan kanan, bayi satunya lagi di tangan kiri? ahh... ajaib. unik. extraordinary. i don't mind (at all) to be an FTM at that time.

sambil cengar-cengir sendiri, kuteruskan makanku-ayam goreng junk-food ini mendadak nikmat luar biasa. harapanku membuncah. mengalami percepatan dari sekedar kagum pada pasangan yang memiliki anak kembar, menjadi ingin sekali punya anak kembar.

dan itu karena kamu yang membuatnya demikian.
you watering my 'plant-of-hope', Bun.

February 5, 2011

(not) my wedding day

Tidak ada bunga mawar putih sebagai dekorasi. Tidak ada kebaya putih sederhana membalutku. Tidak ada resepsi dengan pedang pora seperti impianmu. Tidak ada pemain harpa membawakan wedding song. Tidak ada lagu 'I Will' berkumandang. Tidak ada saweran. Tidak ada jejeran poffertjes dan lolipop kesukaanku.

Dan tidak ada aku di pelaminan.

Tak ada satupun dari hal-hal itu yang hadir di pesta pernikahanmu. Pengantin wanitanya bukan aku. Pedang pora batal, sebatal dirimu menggapai impian satu itu. Tentunya tidak ada saweran sesuai adat daerah asalku. Pengantin wanitanya barangkali tidak se-maniak aku akan poffertjes dan lolipop. Dan lagu I Will... ahh lagu itu berasosiasi dengan kita. Bukan dengan kamu dan dia.

Beberapa kali sempat aku memikirkan hal-hal terburuk apa yang dapat terjadi di pernikahanku. Dan semuanya lebih dari sekedar wajah yang berjerawat di hari-H, pesta yang tak sesuai planning, atau hujan deras di tengah pesta kebun. Hal terburuk yang justru terlewat dari pikiranku adalah ketika pengantin wanitanya bukan aku.

February 1, 2011

when love is not enough

i love writting. not literally writting, karena sekarang lebih sering typing. kecintaan saya sama nulis udah dari dulu. teraplikasikan dengan adanya beberapa buah buku harian dari jaman SD sampai sekarang. yang aktif ditulisi jurnal harian atau curhatan-curhatan. buku harian gak pernah ember, anyway... tapi cinta menulis aja belum cukup untuk bikin saya menghasilkan satu karya brilian. karya tulis yang nyata dan eksis. di publish dan diterima semua kalangan. cuman nge-blog gini, hmmm rasanya kurang. this is the point when love is not enough. when it's not ended until 'love-to-write' tapi juga harus dibarengi dengan effort yg kudu cukup besar. upgrade skill nulis, lebih buanyaak lagi membaca karya2 tulis bagus, dan rajin latihan. practise makes perfect rite?

i love shooting pics. untuk menghasilkan foto yang bagus, gak cukup dengan kecintaan akan foto-memfoto. gak cukup cengan kecintaan akan kagum melihat hasil foto yang bagus, tau angle2 menarik untuk d ambil fotonya, dan tau objek apa yang menarik. lebih-lebih dari itu, ilmu fotografi yang begitu luasnya sangatlah wajib untuk dipelajari. mulai dari yang paling basic sampe upgrade dan upgrade dan upgrade terus ke ilmu-ilmu yang lain. gak kan cukup dipelajari satu malam, satu minggu, satu bulan, satu tahun, bahkan mungkin 10 tahun gak kan ada cukupnya. but it's okay. saya akan jabanin, even it cost me 'seumur hidup'. when love is not enough to produce a good pics. u need 'sacrifice' and totality to 'make' it.

i love reading. all kind of books. sebisa mungkin saya baca. but again. gak hanya butuh kecintaan akan baca, tp juga butuh pengorbanan waktu untuk baca, dan uang kalau ingin beli bukunya. dan sisi subjektifitas akan aliran buku tertentu, semestinya saya tanggalkan. demi menambah info, wawasan, dan studi banding (untuk bahan menulis) sepatutnya lah saya gak lagi pilih2 dalam membaca buku. see... it's just not only 'love-to-read'. but also need sacrifice to arrange your reading time and your 'will' for reading. anykind of book.

also... implementation in 'a realtionship'. i love him, he loves me. and that's not stop until there. and that's not enough. what makes u love your partner? what makes your partner loves you? adalah rasa yang membuncah ketika kecintaan itu datang dari seseorang yang (juga, fortunately) kita cintai. 'aku cinta kamu, aku sayang kamu' tapi ternyata, saya begitu tertekannya ketika bersama dia, begitu mati-matian push myself (up to the limit) untuk menuruti segala yg dia minta (even itu demi kebaikan saya). dia tidak sebegitunya menerima saya apa adanya. daia begitu mati-matiannya mengubah saya menjadi seperti yang dia mau. saya, begitu mati-matiannya juga ingin dituruti apa maunya. me, sometimes just wanna be listen by you... not only loved by you... kecintaan dia yang besar itu, membuat saya takut sendiri. takut membantahnya, bahkan takut untuk menyampaikan apa yg saya ingin dari relationship saya dan dia. bukan kah baiknya 'that' kind of relationship (u know what thats relationship about ya...) adalah tentang saling mendengar dan saling menerima satu sama lain seada-adanya. menjadikan masing-masing lebih baik, dengan cara yang baik. not pushing each other. and never hurt each other (like we used to do). ahh... again... when love is not enough. when my love for you is not enough. when your love for me is not enough. when a relationship is not only about love. it's more than that. more and more than that.

needs more than love to makes everything going well, indeed. in everything!

january 2011

01. happen so fast... really really fast. berasa baru kemarin taun baruan eh tau2 besok udah tgl 1 februari. udah ganti bulan ajah. somehow, it's (really) okay time move so fast. even i wanna skip this day, that day, these days, those days. skip all the days, until the D-Day. until the 'it' moment.

02. shit happen in very-early-year. i think i really wanna skip this year.

03. alhamdulillah, satu kewajiban lagi telah tunai. new year, new (better) look. jilbaban.

04. getting more n more n more mature. i have to!

05. ssstttttt... silent Agni. try to be silent.

06. nice quote from a friend: 'be patient... you cannot always be a doctor'. indeed.

07. welcome february