February 17, 2011

Last Poffertjes

Grogi. Tegang. Nervous. Hesitate. Apapun namanya, yang jelas itulah perasaan saya sekarang. Sekali lagi saya menatap cermin. Bayangan penuh sosok saya berbalut kaos tangan panjang warna hitam-seperti biasa. Rambut sudah terurai rapih, sudah wangi, sudah cantik, dan sudah sudah yang lainnya. Sudah siap pergi.

Gerimis kecil menemani perjalanan saya kali ini. Kali ini saya naik angkot - dengan rutenya yang berputar-putar tak efisien, nostalgia sedikit dengan Kota Bandung, angkot, dan jalannya. Tempias gerimis masuk sedikit melewati celah jendela yang tak bisa tertutup rapat. Hawanya dingin menyegarkan. Wangi udara hujan saya hirup dalam-dalam. Saya suka wanginya. Wangi rumput dan tanah yang tersiram hujan, Wangi jalanan basah, wangi udara sehabis hujan. Sensasi wanginya memanjakan hidung, menentramkan.

Pukul 3 lewat 25 menit. Begitu jam tangan berwarna coklat di tangan saya menunjukkan waktu. Saya berjalan pelan menikmati trotoar basah, sesekali mencipratkan air dari genangan kecil sisa hujan - yang untungnya telah reda ketika saya turun angkot. Kurang dari 100 meter lagi dan masih 5 menit lagi menuju 16:30. Ada trotoar merah bata berpadu kerikil hitam yang kali ini tak nampak lukisan berderet di atasnya, jalan yang tadinya aspal kini berganti batu abu, lampu jalan tua yang masih sama, toko buku yang masih antik, dan bangunan dengan dinding bata merah yang tak berplester. Inilah 'Poffertjes', masih dengan papan khaky dan tulisan coklat tua-nya. Masih dengan semerbak kopi yang baru terseduh dan wangi poffertjes yang masih hangat.

---

Undangannya cantik. Kotak persegi panjang berlipat dua yang tak terlalu kecil. Berwarna merah marun dengan tulisan emas, serta hiasan sulur-sulur tanaman rambat di tiap pojokannya, yang juga emas. Merah dan emas. Nama kedua calon mempelai terukir indah di sisi sebelah kiri undangan ketika dibuka. Hari besar itu akan datang juga, tak lebih dari satu bulan lagi. Saya diam mematut undangan. Mencermati setiap detail tulisan yang tertera. Membuka tutup beberapa kali, membolak-balik tanpa tujuan. Perasaan aneh menyeruak. Senang, sedih, terharu, mencelos. Semua campur aduk.
'Rana...'
Suara Adit memecah hening. Memecah 'keasyikan' saya menilik-nilik undangannya. Undangan yang sedari tadi saya tunggu kemunculannya. Demi secarik undangan inilah saya dan Adit bertemu (lagi). Bertemu di tempat yang menyisakan banyak kenangan bagi saya dan Adit. Tempat kencan pertama, tempat yang selalu dituju setelah bertengkar, tempat perayaan hari jadi, tempat kami merayakan momen-momen terpenting dalam hidup kami. Termasuk momen hari ini.
'iya, Dit...'
'kok diam saja Ra?'
Saya hanya bisa tersenyum - yang mungkin dengan ekspresi aneh. Mengingat pikiran ini belum terlalu fokus pada Adit yang berada di depan saya. Kepala ini tiba-tiba terasa melayang. Ingin melepaskan diri dari badan saya. Tuhan, saya sudah menyiapkan momen ini. Menyiapkan serangkaian kata hingga menyiapkan tampilan ekspresi. Prakteknya, mimik ini tak bisa di ajak kompromi. Lupa akan semua yang telah dipersiapkan.
'Adit...'
'ya Ra?'
Saya pandangi Adit lekat-lekat. Banyak yang ingin saya katakan. Banyak yang ingin saya gugat pada Adit. Banyak protes yang saya siap lancarkan. Serta ceracauan-ceracauan lainnya yang ingin dengan segera saya muntahkan pada Adit. Untungnya otak saya dapat berpikir lebih cepat kali ini. Memerintahkan lidah untuk tetap terkontrol dan bibir untuk tetap mengatup. Serta hati untuk tetap terkuasai.
'selamat yaaaa... aku turut senang Dit...'
Senyum saya kembangkan lebar-lebar. Ekspresi telah dapat terkuasai. Seperti yang telah saya persiapkan semalam. Sungguh tiba-tiba perasaan lega memberondong seketika saya mengucapkan selamat pada Adit.
'terimakasih Ra...'
Adit pun tersenyum. Terbersit kelegaan yang luar biasa di balik senyumnya. I know it Dit, itu senyum lega karena ucapan selamat dari saya. Lega akan respon saya yang memberikan senyum gembira untuknya. Ternyata bisa. Saya bisa tersenyum kembali untuk Adit. Sebisa saya bertemu dengannya hari ini dan rasanya biasa saja. Sebiasa saya menghirup udara pagi Bandung yang dingin menusuk. Well... kegiatan menghirupnya yang biasa, namun bukan dinginnya. Tetap ada tusukan pilu disana, menjalar hingga ulu hati. Dingin yang membekas di relung memori. Cepat hilang dari otak, tapi tidak dari asa. Dan biarlah ini demikian adanya. Accepting, not deleting Ra.

We'll meet again, in less than a month. That time will be the execution time. Akan menjadi hari penentuan kemana hati ini akan (benar-benar) melangkah. Yang jelas, tidak lagi melangkah bersamamu, Adit.
'Dit, ini poffertjes paling enak. Poffertjes kita yang terakhir.'


2 comments:

adit_b_goode said...

emang sih yang namanya adit tuh jenius pisan lah...

Agni Giani said...

@_@ sakarepmu lah *yg jelas ini bukan adit kamu yaaa :p *