March 4, 2011

Dia [1] - flash back


Idul Fitri 2008


Semakin jelas lah status barunya. Dia ber-lebaran bersama kami anak-anak kost yang tak pulang kampung. Sama seperti kami, dia sendiri tanpa keluarga. Tanpa anak dan istri. Matanya sayu - seperti biasa. Entah darimana dorongan itu berasal, tiba-tiba aku berkeinginan menghiburnya – meski aku tak tahu persis apakah dia bersedih atau tidak atas perceraiannya itu.

Hari itulah, kali pertama aku mulai bercerita padanya. Bercerita bagaimana aku bisa terdampar di kota ini, bercerita tentang bagaimana aku yang justru excited untuk pertama kalinya berlebaran di kampung orang, hingga bercerita tentang siapa yang meneleponku semalam ketika kami berbuka puasa bersama di malam takbir – kebanyakan tentu saja aku yang mengoceh.

Hari itulah, kali pertama aku diboncengnya. Di atas motor matic merahnya. Bercerita apa saja sepanjang perjalanan menuju rumah-rumah teman yang mengadakan open house. Menjadi teman ‘rakus’ di setiap rumah yang kami datangi. Dari satu rumah ke rumah lainnya, kami selalu rakus bersama. Sambil berkelakar bersama. Senang melihatnya tertawa. Dengan gigi-gigi putihnya yang berderet rapi. Matanya lebih berbinar dari kemarin-kemarin. Sayunya sedikit-sedikit menghilang.


No comments: