March 17, 2011

midnite thought - mulut diam, hati diam

protes, adalah hal yang manusiawi. sekecil apapun, manusia pasti pernah protes. taruhan ama saya, entah itu bayi, atau kakek nenek, semua orang pernah protes. yang tentu saja perwujudan dan ekspresinya sungguh luar biasa beragam.

bentuk protes paling nyata semisal demo mahasiswa di gedung MPR, demo karyawan nuntut naik gaji. dalam hal itu keliatan jelas bentuk protes nya. apa yang di protes-kan, kepada siapa oleh siapa juga jelas. bentuk lain protes bisa juga semacam aksi jait mulut, menuntut apa lah itu. protes tp gak agresif. malah cenderung menyakiti diri. anak kecil yang mogok makan juga bentuk protes. saya juga pernah buat aksi tutup mulut dirumah, ketika protes sama ayah ibu. berbagai macam bentuk protes yang dikeluarkan. namun bentuk-bentuk tadi termasuk protes yang disalurkan, ada pengeluarannya. terlihat, jelas, dan nampak.

ada juga protes yang tak bisa tersalurkan. ketika menghadapi hal yang sebenarnya memicu protes saya, namun karena banyak hal, akhirnya protes itu tidak keluar dalam bentuk-bentuk yang nampak seperti tadi. meski ingin protes kepada pihak-pihak tertentu karena suatu hal-hal tertentu, tapi sungguh keadaan memaksa saya gak bisa protes. dengan kata lain, protes terpendam. jadinya semisal ngedumel sendiri, misuh-misuh sendiri, bahkan sampai marah-marah sendiri sama diri sendiri dan sendirian. annoying! membahayakan kesehatan (jiwa) juga. lbh parah lagi ketika gak protes dlm bentuk nampak, pun gak ada acara misuh2 sendiri. terlihat fine-fine saja, namun hati begitu bergemuruh. masih protes! ini paling bahaya.

misuh-misuh sendiri (baca: gak d hadapan org lain ya..), paling tidak ada emosi yang tersalurkan. beberapa orang mungkin begini cara protesnya. tapi hal yang terakhir tadi, protes di hati tadi yang sungguh paling bahaya. mulut boleh saja diam. mimik boleh saja manis. namun bila hati tetap protes....hmmm...bisa panjang urusan. dan sungguh, pengamanan terhadap protes pun akan lebih sulit dilakukan. rasanya pun sangat tidak nyaman. lebih tidak nyaman dari habis marah-marahin orang krn protes, lebih tidak nyaman dari betapa capeknya berdiam diri sama orangtua yg setiap hari ketemu, dan lebih tidak nyaman dari misuh-misuh sendiri di kamar mandi kaya orang gila.

ketika saya pernah suatu ketika mengeluh ttg kerjaan sama teman saya (salah satu bentuk protes yang lain jg nih), tiba-tiba dia bilang bahwa kalau memang kita gak protes sama seseorang terhadap sesuatu, dalam bentuk apapun, alias berdiam diri doing nothing, makanHATI kita pun harus ikut diam. deg! iya juga yah... kalau pengen protes ya ngomong. kalau gak ngomong ya masuk kamar mandi, misuh-misuh sendiri sanah! tapi kalau memang protes engga, misuh2 jg kynya engga, maka diam. diamkan hati juga, jangan biarkan sampai bergemuruh meski sedikit. ketika mulut tak bisa mengeluarkan protesnya, maka hati juga harus diam. shut down. dan itu lebih berguna....

so speak up! if not, i'll just shut my heart down.

No comments: