March 20, 2011

Retoris

"apa kamu ingat, waktu kita putus untuk yang pertama kalinya. bukan yg pertama kalinya sama kamu, tapi itu memang putus cintaku yang pertama. setelah kita putus, ga lama kita ketemu di bimbel. ya, sekelas! tapi apa yg terjadi, kamu hanya diam tiap kali kita berpapasan, begitupun aku."

"kamu pikir aku masih punya muka untuk ngomong sama kamu?waktu itu kita masih smp. aku juga ga tau harus bersikap gimana. itu juga putus cintaku yang pertama."

"sampai bimbel kita berakhir, dan kita masuk sma, ternyata tokoh kamu masih ada aja di hidup aku. aku pikir kita selesai sampai situ, ternyata aku salah besar. kamu datang lagi. sepucuk surat lagi. dan benar, kamu datang lagi untuk aku disaat aku sedang dekat sama cowo lain. kamu kira aku ga bingung waktu itu? aku ingin bergerak menuju kamu. sama kamu lagi. tapi aku ga bisa saat itu. ada orang lain..."

"perjuanganku kali itu ga membuahkan hasil. aku menempuh jarak berkilo-kilo meter di malam hari, naik angkutan umum, mencari rumah kamu yang aku belum tau dimana hingga aku nyasar. hanya berbekal sebuah alamat yang tidak diketahui kevalidannya. hanya demi kamu. demi mengantar sekotak coklat di hari valentine, untuk kamu... yang ada kamu malah mendiamkanku di teras rumahmu."

"entah kenapa selalu ada yang jadi intel aku. tanpa aku tanya, aku selalu tau hal-hal tentang kamu. sampe nomer handphone kamu. kita mulai lagi, saling bergantung, saling mengisi, saling menghibur, saling mendukung. sampe ga sadar aku jatuh lagi. scrapbook itu puncaknya. kertas2nya aku gunting sendiri, aku gambari sendiri, aku tulis sendiri. semuanya aku kerjakan dengan tanganku sendiri. hanya dua hari, semuanya siap aku kirim untuk ulang tahun kamu ke-17. entah kerasukan apa aku waktu itu."

"itu ultahku yang paling berkesan. buku yang sering aku baca berulang-ulang"

"apa yang terjadi setelahnya?ga berapa lama setelah itu...kita ketemu lagi. tapi keulang lagi, kejadian seperti dulu. kita ketemu dalam diam. hanya kita yang tak saling bicara satu sama lain, sementara sama teman2 yang lain kita bisa sampai tertawa. waktu itu reuni SD. kali itu pun, kita berpisah dalam diam. tanpa kata sepatahpun. teman2 kita bilang kita hebat, masih bisa bersama sejauh itu. kita mengantarkan langsung undangan reuni ke tiap2 orang, kerumah mereka masing2. kita yang melakukannya. tapi hari-H nya, malah menjadi hari yang berhasil merusak mood aku. kamu pergi gitu aja. aku benci hari itu."

"aku ga tau harus gimana..."

"ga lama dari kejadian itu, aku ke jogja. kamu, mulai sms lagi. menemani hari-hari aku di jogja. kamu, selalu bisa membolak-balikan keadaan. dan aku, bodohnya aku, selalu terbawa arus yang kamu ciptakan. selepas lulus sma, kita kehilangan masing-masing. aku ga tau kamu kuliah dimana. sampai suatu hari, lagi2 ada yg membocorkannya. ah, intel yang lain. beberapa tahun lewat. aku asik dengan kehidupan kuliahku, begitupun kamu. ga kerasa, 3 tahun. sampai sesaat setelah aku lulus, kamu sms lagi. kamu muncul lagi. lagi2 aku sedang sama yang lain. tapi hal itu ga menghalangi kita untuk tetap saling mengisi. kamu hilang lagi, hingga aku akhirnya migrasi ke jakarta. kamu ada lagi... memintaku untuk membantu tugas kuliahmu. kamu ga tau saat itu aku sudah pergi dari bandung. dari situ, kita mulai lagi. muali lagi berkomunikasi, meski kamu bersama yang lain dan aku tidak."

"kalau saja kamu kabarin aku waktu kamu wisuda..."

"salahin aja aku, yang masih suka penasaran mencari kamu. tapi kenapa selalu saja ada jalan untuk kita ketemu. sampe pada akhirnya kita memang benar2 dipertemukan lagi. dekat lagi. dan kita terbang kembali akan memori-memori masa lalu kita. umur 13, kencan yang seringnya lewat telpon, kemping bersama, putus kita yang pertama, hingga scrapbook. kamu membawaku lagi masuk ke dalam duniamu. aku yang kala itu sedang patah hati, mulai menata serpihannya dengan bantuanmu. kita pun kembali bersama, meski kamu menarikku di tengah2 hubunganmu dengan orang lain. aku tetap percaya kalau kita akan bersama"

"kali itu memang salahku..."

"tapi kamu hanya berjanji tanpa bukti...kamu menyakiti ku lagi. hingga kini aku tak bisa lupa gimana sakitnya rasa itu. waktu kamu tinggalkan aku lagi untuk yang kesekian kali. harusnya aku lebih kuat karena ini bukan putus cinta yang pertama. tapi kini aku semakin dewasa. semakin memahami artinya kamu untuk aku. aku aja ga tau apa aku bisa bangkit atau engga. kembali kita terdiam. saling diam. meski suatu hari kamu bilang kalau aku ga boleh menghilang lagi dari kamu. datang dan pergi sesuka hati kamu. apa kamu tau rasanya direngkuh, namun seketika dihempaskan? yang ada sakit. bukan lagi berkeping, tapi jadi lebur."

"kamu pikir aku ga ingat kamu?tau knp aku ga ingin ketemu kamu?aku takut, malah akan menyakiti kamu lagi. aku ga tau harus gimana kalau aku ketemu kamu. beberapa telponku di tengah malam itu, karena aku yang merasa kehilangan. lalu kenapa km juga beberapa kali menghubungi ku di tengah malam?"

"2 minggu lagi, tepat sebelas tahun perjalanan kita. tapi kamu lihat kita sekarang, berdiam di tempat dengan muka tertekuk dan suram ada di atas kepala kita. apa kamu nyaman dengan keadaan kaya gini? karena aku engga. aku mungkin orang yang gak peka. yang ga bakal pernah tau kalau kamu ga bilang langsung sama aku kalau kamu memang ga pernah cinta sama aku. lalu kedepannya gimana? aku ingin normal. aku ingin mengakhiri perjalanan ini dalam bentuk apapun. kita sama2 sendiri sekarang ini. kita akan bagaimana?"

"11 tahun. sudah selama itu ternyata... kalau aku ga cinta sama kamu, aku sudah pergi dari lama. gak mungkin aku merasa ga enak sama kamu. aku butuh waktu, aku ga ingin menyakiti kamu lagi. kalau aku ga cinta sama kamu, knp aku msh mencoba menghubungi kamu lagi. dan juga kamu, knp masih bertahan?"

"apa kita masih saling cinta?"

"menurutmu?"

No comments: