April 25, 2011

Pulang

Hari minggu pagi yang cerah. Sedari subuh saya sudah mulai bersiap-siap. Memeriksa kembali semua barang bawaan yang tadi malam sudah dikemas. Isi koper dan backpack diperiksa untuk terakhir kalinya. Saya juga sweeping kamar tidur dan rak buku di ruang keluarga. Memastikan semua-semua yang perlu dibawa sudah terkemas rapih dalam koper dan backpack. Siap pulang.

Pulang? Kembali bekerja lebih tepatnya. Heading back ke kota tempat saya merantau. Liburan telah habis. Pagi ini terasa malas. Dengan terpaksa saya menyuapkan sedikit demi sedikit nasi goreng yang telah dibuatkan ibu. Malas. Sindrom yang sama setiap kali selesai berlibur.

9:05. Minggu pagi yang cerah. Tak kalah cerah dari polo-shirt Adit yang merah menyala. Dia datang lebih awal dari yang saya minta semalam. Matanya masih terlihat mengantuk. Mungkin akibat mendengarkan ocehan saya sampai dini hari tadi. Meski begitu, Adit tetap tersenyum tenang. Mengajak bermain kucing-kucing di teras sambil menunggui saya selesai sarapan.

-Tuhan, bolehlah kiranya waktu dibekukan sekarang juga?-

'Pamit Bu, Yah...' Bergantian saya ciumi tangan ibu dan ayah. Pamit. Ini ritual yang paling membuat saya malas. Setelahnya, pasti ibu diam-diam menitikkan airmata.

Adit mengantar saya ke bandara. Sepanjang jalan hanya diisi dengan diam. Sesekali saya mengoceh. Sendiri. Adit lebih banyak diam. Kalau sudah begini, lebih baik saya ikut diam juga. Bosan bolak-balik mengganti CD, menutup buku yang malah membuat saya pusing, dan bosan memandangi jalan yang pohon melulu.
'cepat pulang lagi Ra...'
Ahh kata-kata itu lagi. Bahkan tiba di bandara saja belum. Bahkan naik pesawat saja belum. Bahkan tiba di kota tujuan saja belum. Sekali dua kali saya senang ketika ada yang menanti kepulangan saya. Ada yang mengharapkan saya datang. Apalagi itu Adit. Tapi untuk kali ini, setelah untuk entah kali yang keberapa, kata-kata itu bermetamorfosa dari euforia menjadi tekanan.

Dan tekanan itu membuat sesak. Meninju ulu hati dan mendesakkan pilu ke seluruh syaraf. Melepaskan hawa yang memanasi wajah. Menyeruak menjadi bulir-bulir bening yang memenuhi kantung mata dan bersiap tumpah hanya dengan satu kedipan pelan. Buru-buru saya palingkan muka ke samping, kembali memandangi sederet pepohonan. Menyembunyikan lirih.

---

Masih ada waktu sekitar satu jam hingga take-off.
'Adit...'
'ya?'
'gak usah tunggu aku pulang...'
'Ra... kenapa?'
'...'
'Ra...'
'aku masuk dulu. sebentar lagi boarding...'
Masih satu jam lagi hingga take-off. Saya bergegas masuk check-in room untuk kemudian meneruskan ke ruang tunggu. Lebih baik menunggu disana.
'Rana! ada apa?' 
Nada suara Adit meninggi. Dan saya tetap berlalu meninggalkannya. Setiap langkah terasa berat. Sudah melangkah cepat-cepat tapi belum juga sampai. Setiap langkah mewakili satu sembilu yang tertancap di hati. Setiap langkah semakin membuat sesak.
'gak usah tunggu aku pulang. gak usah... gak usah hubungi aku lagi. makasih udah antar.'
Kali ini saya benar-benar berlari. Menerabas siapa saja yang menghalangi jalan. Tergesa-gesa melewati petugas pemeriksa. Dengan langkah seribu, cepat-cepat mengarahkan kaki ke ruang tunggu. Dada ini bukan lagi sesak. Dia bergemuruh hebat. Mata ini bukan lagi sekedar panas. Dia melepaskan banjir maha dahsyat.

Mengapa semuanya begitu berat untuk perpisahan yang bahkan sesederhana ini. Mengapa semuanya begitu pedih untuk mempersiapkan sebuah kehilangan yang sudah seharusnya.

Adit...

Ladya...

Adit...

Ladya...

Adit dan Ladya.


Saya yang akan pergi, Adit... tak akan lagi pulang untuk kamu.

2 comments:

vanilla hitam said...

aku suka nama Rana, mba.. dari dulu !! ahahhahaa, tu t crita kan ? awalnya aku kira beneran..hhehehe, ;)

Agni Giani said...

bagus yak nm Rana :D... yup ini cerita hehehe...