May 26, 2011

setelah 3 tahun

setelah 3 tahun...
kembali lagi kemari.
pada kemacetan jakarta.
hiruk pikuk pagi harinya.
hingar bingar malam harinya.
jakarta yang sama...

setelah 3 tahun...
jalanan yang sama setiap hari.
masih rute yang sama.
masih gedung kantor yang sama.
sebagian besar teman kerja masih sama.
bertambah yang baru dan beberapa yang lama sudah tak nampak.

ada yang berkurang,
ada yang bertambah,
ada yang baru,
ada yang hilang.

setelah 3 tahun...
beberapa hal tentu saja berbeda.
beberapa teman sepermainan sudah pindah.
beberapa yang ada tidak lagi bebas diajak bermain.
sudah berkeluarga. menikah. punya anak.
akan menikah. sudah tunangan.

dan...
tentu saja,
tak ada lagi yang membuatkan saya susu coklat hangat di tengah malam.

May 1, 2011

Sekotak Cadbury

14 Februari 2011
Coklat lagi. Kali ini Peter si bule Jerman yang membawanya. Tepat di hari valentine. Diantara bule-bule yang lain, Peter memang paling rajin 'menyuap' saya dan kolega satu tim dengan coklat bawaannya yang nikmat-nikmat. Yup, kami paling suka sama coklat-coklat yang dibawa Peter. Dia tahu persis, coklat yang dibawanya harus alcohol free dan 100% halal.

Kali ini Peter sedang lebih berbaik hati. Dari yang biasanya satu kotak coklat untuk ramai-ramai, kali ini dia beri kami masing-masing satu kotak coklat. Kotak biru bertuliskan Cadbury. Sekotak coklat Cadbury. Sambil bilang terimakasih sama Peter, lamat-lamat saya pandangi kotak coklat itu. Sekotak coklat Cadbury. Membuat saya ingat Adit.

---

14 Februari 2001
'Kak... ada temen datang nih' setengah berteriak ibu memanggil saya. Buyarlah konsentrasi saya yang sedang belajar Kimia. Besok pagi ulangan. Ugh!
'iyaaa... siapa bu?' malas-malasan saya keluar kamar. Siapa pula teman yang datang malam-malam begini. Tak biasanya juga ibu menyebut 'teman' alih-alih menyebut nama teman saya langsung. Siapa sih?

'Adit! ngapain malem-malem gini?'
'eh..anu...Rana, Adit boleh minta minum?'
'bentar...'
dengan gontai karena malas, saya pergi ke dapur demi segelas air dingin untuk Adit. Meninggalkan Adit sendirian di depan pintu rumah. Sendiri. Dan berdiri. Saya lupa mempersilahkan Adit masuk dan duduk.

'makasih Ra...' Adit meneguk habis satu gelas air mineral dingin dalam hitungan detik tanpa jeda. Dia pasti kelelahan. Tampangnya memang terlihat capai. Mukanya dipenuhi minyak dan keringat. Lusuh. Kemeja seragamnya tak terselip lagi. berantakan tak karuan.
'ada apa Dit?malam-malam gini...'
'duh Ra...ko galak amat nanyanya'
'karena kamu ganggu. aku lagi belajar, besok ada ulangan.'
'oh...maaf Ra...'
Sambil tetap tak tersenyum, saya mendengus kesal. Sudah datang tanpa pemberitahuan, mengganggu pula.
'Adit gak bakal lama kalau gitu...'
'mmm...kesini sama siapa?ko bisa sampe rumahku?'
'sendiri Ra, naek angkot. Adit kan memang simpan alamat Rana, tapi tadi sempat nyasar juga sih...'
'oh...okey...'
'...'
'lho ko malah diam? ada apa sih Dit?'
This is really wasting my time. Time keeps ticking! Dan saya masih harus melanjutkan belajar demi ulangan besok pagi. Adit masih berdiam setelah kali kesekian saya bertanya perihal alasan dia menemui saya malam ini. Oh c'mon Adit, jauh-jauh datang langsung kemari sepulang sekolah hanya untuk berdiri saja begini?

'ini Ra...' sambil tertunduk Adit menyerahkan kotak berwarna biru-putih yang berukuran kira-kira 15x15cm dengan tinggi 5cm. Cadbury, tulisan besar berwarna putih tepat di tengah-tengah kotak. Dan bunga berwarna pink terbuat dari pita jepang menempel cantik di salah satu sudut kotak.
'hee? apa ini?'
'Adit pamit...'
'oh...okey' dengan datarnya saya menjawab Adit. Alih-alih berterimakasih, saya malah tetap ketus. Masih kesal. Malam itu, Adit berlalu pulang tanpa pernah saya persilahkan duduk.

Esok harinya di sekolah, saya bagikan sekotak Cadbury pemberian Adit pada teman-teman kelas hingga habis tak bersisa. Valentine yang telat satu hari.

Saya tak pernah mencicipi coklat itu sedikitpun. Andai kamu tau, Dit...

Namanya Ladya

Malam yang selalu panas. Kamar lantai 2 dari rumah di atas bukit. Perlu menaiki 37 anak tangga sebelum tiba di teras rumah. Kamar tanpa kipas angin. Lantai selalu jadi penolong menyejukkan suasana. Biarkan keringat ini sedikit menguap sebelum benar-benar saya basuh dengan mandi. ...everybody dancing in the moonlight... bunyi telepon genggam mengagetkan. Begitu nyaring.
'yellow mellow!'
'hoi Rana. lagi dimana?'
'hoi Aldi! gue lagi di kamar'
'besok ada dirumah? gue mau anter undangan'
'heee... lo kira gue dikamar mana? gue gak di Bandung'
'hooo sori sori... ya udah tetep aja besok gue anter undangan yah kerumah lo'
'iya titip aja ke orang dirumah'
'oke deh... ntar bisa dateng kan yah, maret?'
'maret kayanya bisa. gue ambil cuti bulan itu... eh bentar. undangan apa nih??'

---

Aldi's wedding party. Berkonsep garden party. Resepsi pernikahan Aldi terkesan santai namun apik. Sejuknya Bandung menjadi lebih dingin karena udara malam dan lepas hujan tadi sore. Nuansa putih mendominasi. Kain-kain dekorasi, bunga-bunganya, gaun pengantin, kursi-kursi, semua putih. Kontras dengan rerumputan hijau dan hitamnya langit malam.

'selamat ya Al! gile lo cepet banget. kita gak nyangka'
'iya nih Al, berasa mimpi siang bolong pas si Rana kabarin gue lo mau married'

Aldi si pengantin pria, hanya bisa cengengesan menanggapi ocehan saya dan Prita. Setelah mengenalkan wanita yang baru 4 jam menjadi istrinya, Aldi menarik saya dan Prita. Menjauh sebentar dari sang istri yang juga sibuk dengan tamu-tamunya.
'Ah elo elo sih pasti pada sirik. Gue yang cowo malah kawin duluan. Iya kaaann??'
Sejenak saya dan Prita berpandangan. Sebelum akhirnya kami beringsut meninggalkan Aldi setelah tertawa mencibirnya. Perkataannya memancing umpatan kami. Sial! Ahh lebih baik saya mengisi perut dengan hidangan-hidangan yang terlihat well prepared.

'Ra..Ra..' Prita menyikut saya.
'Apa sih Ta?' acuh tak acuh saya menjawab Prita. Merasa terganggu karena sedang asyik makan.
'Itu Adit??'
'Adit? mana??...'
'Itu, di pinggir kolam'
'...'
'errr bukan ya Ra? mirip doang kayanya'
'....bener kok, itu Adit'

Iya, itu Adit. Bahkan dari radius 5 meter dan tampak belakang pun saya tahu persis itu Adit. Bahkan ketika rambutnya tak lagi gondrong. Adit. Sedang duduk berdua dengan seorang perempuan. Setelah mematung sekian detik, saya mendekati mereka. Lebih memastikan.

'Adit...' dengan ragu, saya menyapa Adit.
'Eh, Rana... Prita...'
'hoii bener Ra, ini si Adit!pa kabar lo?' dengan heboh Prita menyapa Adit.
'baik Ta... kalian apa kabar?'
Pergi bersama Prita ke resepsi Aldi dan bertemu Adit, it's like a small reunion. Mengingat kami pernah semua pernah satu sekolah dan bersahabat dari dulu. Setelah saling berjabat tangan, masing-masing kami bertukar sedikit kabar. Basa-basi singkat diantara ke-kikuk-an. Well, lebih tepatnya ke-kikuk-an antara saya dan Adit. Sampai melupakan perempuan disebelah Adit, yang dari tadi hanya bisa melempar senyum terpaksa. Dia memakai dress bunga-bunga jingga berwarna dasar salem. Berkacamata dan tanpa riasan. Rambut ikalnya pun ditata biasa. Kelewat biasa untuk sebuah pesta. Hanya disisir dan diikat ekor kuda. Sedari tadi sebelah tangannya tak lepas dari pinggang Adit.

'Rana...' , saya mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
'Ladya' Suaranya pelan disertai sedikit bungkukan dan senyum malu-malu.

---

Pertemuan pertama dengan Ladya. Perkenalan biasa. Tanpa kesan apa-apa. Terlupakan begitu saja seiring selesainya resepsi pernikahan Aldi malam itu. Tanpa pernah menduga bahwa nantinya, suatu ketika, akan ada urusan yang tidak bisa dibilang sederhana antara kami. Saya dan Ladya. Dan tentu saja Adit.