May 1, 2011

Namanya Ladya

Malam yang selalu panas. Kamar lantai 2 dari rumah di atas bukit. Perlu menaiki 37 anak tangga sebelum tiba di teras rumah. Kamar tanpa kipas angin. Lantai selalu jadi penolong menyejukkan suasana. Biarkan keringat ini sedikit menguap sebelum benar-benar saya basuh dengan mandi. ...everybody dancing in the moonlight... bunyi telepon genggam mengagetkan. Begitu nyaring.
'yellow mellow!'
'hoi Rana. lagi dimana?'
'hoi Aldi! gue lagi di kamar'
'besok ada dirumah? gue mau anter undangan'
'heee... lo kira gue dikamar mana? gue gak di Bandung'
'hooo sori sori... ya udah tetep aja besok gue anter undangan yah kerumah lo'
'iya titip aja ke orang dirumah'
'oke deh... ntar bisa dateng kan yah, maret?'
'maret kayanya bisa. gue ambil cuti bulan itu... eh bentar. undangan apa nih??'

---

Aldi's wedding party. Berkonsep garden party. Resepsi pernikahan Aldi terkesan santai namun apik. Sejuknya Bandung menjadi lebih dingin karena udara malam dan lepas hujan tadi sore. Nuansa putih mendominasi. Kain-kain dekorasi, bunga-bunganya, gaun pengantin, kursi-kursi, semua putih. Kontras dengan rerumputan hijau dan hitamnya langit malam.

'selamat ya Al! gile lo cepet banget. kita gak nyangka'
'iya nih Al, berasa mimpi siang bolong pas si Rana kabarin gue lo mau married'

Aldi si pengantin pria, hanya bisa cengengesan menanggapi ocehan saya dan Prita. Setelah mengenalkan wanita yang baru 4 jam menjadi istrinya, Aldi menarik saya dan Prita. Menjauh sebentar dari sang istri yang juga sibuk dengan tamu-tamunya.
'Ah elo elo sih pasti pada sirik. Gue yang cowo malah kawin duluan. Iya kaaann??'
Sejenak saya dan Prita berpandangan. Sebelum akhirnya kami beringsut meninggalkan Aldi setelah tertawa mencibirnya. Perkataannya memancing umpatan kami. Sial! Ahh lebih baik saya mengisi perut dengan hidangan-hidangan yang terlihat well prepared.

'Ra..Ra..' Prita menyikut saya.
'Apa sih Ta?' acuh tak acuh saya menjawab Prita. Merasa terganggu karena sedang asyik makan.
'Itu Adit??'
'Adit? mana??...'
'Itu, di pinggir kolam'
'...'
'errr bukan ya Ra? mirip doang kayanya'
'....bener kok, itu Adit'

Iya, itu Adit. Bahkan dari radius 5 meter dan tampak belakang pun saya tahu persis itu Adit. Bahkan ketika rambutnya tak lagi gondrong. Adit. Sedang duduk berdua dengan seorang perempuan. Setelah mematung sekian detik, saya mendekati mereka. Lebih memastikan.

'Adit...' dengan ragu, saya menyapa Adit.
'Eh, Rana... Prita...'
'hoii bener Ra, ini si Adit!pa kabar lo?' dengan heboh Prita menyapa Adit.
'baik Ta... kalian apa kabar?'
Pergi bersama Prita ke resepsi Aldi dan bertemu Adit, it's like a small reunion. Mengingat kami pernah semua pernah satu sekolah dan bersahabat dari dulu. Setelah saling berjabat tangan, masing-masing kami bertukar sedikit kabar. Basa-basi singkat diantara ke-kikuk-an. Well, lebih tepatnya ke-kikuk-an antara saya dan Adit. Sampai melupakan perempuan disebelah Adit, yang dari tadi hanya bisa melempar senyum terpaksa. Dia memakai dress bunga-bunga jingga berwarna dasar salem. Berkacamata dan tanpa riasan. Rambut ikalnya pun ditata biasa. Kelewat biasa untuk sebuah pesta. Hanya disisir dan diikat ekor kuda. Sedari tadi sebelah tangannya tak lepas dari pinggang Adit.

'Rana...' , saya mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
'Ladya' Suaranya pelan disertai sedikit bungkukan dan senyum malu-malu.

---

Pertemuan pertama dengan Ladya. Perkenalan biasa. Tanpa kesan apa-apa. Terlupakan begitu saja seiring selesainya resepsi pernikahan Aldi malam itu. Tanpa pernah menduga bahwa nantinya, suatu ketika, akan ada urusan yang tidak bisa dibilang sederhana antara kami. Saya dan Ladya. Dan tentu saja Adit.

No comments: