June 13, 2011

Sereguk Cinta Yang Lain

Jakarta malam ini terasa panas, tapi hati ini beku. Pertemuan dengan Donni penyebabnya. Sudah tengah malam, dan saya masih terpekur kedinginan di dalam kamarnya. Donni sudah lelah meminta maaf dan mewanti-wanti saya untuk jangan menangis. Tidak, saya tidak menangis. Hati ini terlalu beku untuk bisa melelehkan tangis. Saya terlalu membeku untuk beranjak. Tak hanya hati dan pikiran, kini seluruh badan rasanya ikut-ikutan membeku ditinggal Donni tidur. Diitinggal tidur. Ditinggal raga. Dan hatinya.

'heh!lo dimana Ra?' Telpon dari Aria memecah kebekuan pikiran saya.
'di kosan Donni'
'ngapain??pulang gak lo?!'
'gue gak mau plg...'
'diem disana. gue jemput!'

Tidak sampai 5 menit, Aria sudah berada tepat di depan pintu kamar Donni. Saya terpaksa harus pulang. Apalah jadinya bila Aria terus-terusan mengetuk pintu kamar Donni ketika saya bilang tidak mau keluar kamar.

'Kenapa sih Ra? Kenapa lo mesti diem disana hah? Kenapa gak langsung pulang abis selesai urusan? apalagi Ra?' Aria mengomel panjang lebar mengomentari keputusan saya untuk bertahan di tempat Donni. Berharap satu dua penjelasan lagi darinya - yang ternyata tak kunjung tiba. Saya hanya bisa diam sepanjang perjalanan menuju kontrakan Aria yang tak begitu jauh dari tempat Donni.

'Kenapa lo diem aja? Tadi lo ma Donni ngobrol apa? Keputusannya sama kan? Dia tetep pergi dari lo?'

Apalah jawaban pantas untuk semua pertanyaan Aria, toh dia sudah tau persis jawabannya. Saya putuskan untuk tetap diam. Aria mendudukkan saya di sofa ruang depan rumah kontrakannya. menarik kursi dihadapan saya, duduk mendekat, dan bertanya lagi. Kali ini lebih lunak. 'Rana, sori tadi gue paksa lo pulang. Gue takut lo kenapa-kenapa. Tengah malem, di kamar cowo... berengsek pula...' Aria mengakhiri kalimatnya dengan setengah berbisik.

Mata saya mulai panas...

'Lo kira gue gak khawatir, Ra??'

Seketika, tumpahlah airmata saya. Semua hal tentang Donni berputar-putar bergantian di kepala saya. Semua kata-kata Donni memenuhi gendang telinga saya. Aria hanya bisa menatap iba. Berhenti bertanya pun berkomentar.

'I'm really stupid Ar...' setelah 30 menit yang panjang, hanya itu yang keluar dari mulut saya. Banjir airmata tak tertahankan lagi. Setelah satu helaan nafas panjangnya, Aria berdiri dari duduk. Pergi. Ahh pasti dia sudah capek dengar saya hanya bisa sesenggukan membasahi bantal merah kecilnya. Meninggalkan saya yang kedinginan. Kali ini benar-benar kedinginan. Sudah lewat tengah malam.

'Nih, minum dulu...' Segelas susu coklat panas tersodor di hadapanku. Tidak berapa lama Aria datang dengan segelas susu coklat panas. Minuman yang setia diminum Aria setiap pagi dan malam hari.

'Ditiup dulu...' Dengan ragu saya meraih gelas besar berwarna putih biru itu. Meniupnya perlahan dan hati-hati. Menghirup aromanya. Ini milo, bukan susu coklat. Aria lebih suka Milo daripada susu coklat.

'Diminum Ra, abisin dulu kalau perlu. Biar aga tenangan...'
'Iya...' aku menjawab pelan sambil mengangguk lemah.
'Udah, gak usah dipikirin lagi yah...' Aria mengelus pelan ubun-ubunku. Berusaha sebisa mungkin meredakan tangisku. Berusaha menenangkan. Seperti biasanya.

Alih-alih reda total, saya malah terisak lagi. Kali ini isakan lain. Bukan lagi perihal Donni atau hal lainnya masalah asmara. Kali ini isak haru. Betapa saya sungguh bersyukur akan segelas milo hangat ini. Lebih dari segelas milo, malam ini saya begitu diberkati dengan adanya Aria. Satu-satunya teman yang menanyakan keberadaan saya tengah malam ini. Satu-satunya orang yang berada di sebelah saya saat ini. Sungguh saya tak perlu siapa-siapa lagi saat ini. Cukup ada Aria disini. Cukup ada Aria yang rela membuatkan segelas milo hangat.

Milo ternikmat yang pernah saya sesap. Hangatnya menjalar hingga ke hati. Penuh rasa tulus persahabatan. 'Ar, besok lusa atau entah kapan pun itu, gantian saya yang akan buatkan milo hangat untuk kamu.'

Terimakasih Aria... Untuk malam yang tak kan pernah saya lupakan.

No comments: