September 29, 2011

Dari Balik Jendela

pic taken from here
Melalui jendela kecil disebelah meja kerja, aku bisa menyaksikan kamu sekurangnya dua kali sehari. Ketika waktu makan siang dan sholat ashar. Terkadang ekstra dua kali lagi sewaktu kamu mencari soft drink di kantin.

Senin hingga jumat. Setiap harinya tak luput aku menatap punggungmu berlalu dan bersiap menyambut wajahmu yang cerah sehabis sholat. Bersinar dengan kemilau basah dirambut sisa air wudhu. Selalu seperti itu. Selalu ada sisa-sisa basah di rambut ikalmu.

Jendelaku ini kecil, namun dapat membingkai sempurna keindahan dirimu. Aku yang hanya bisa memandang melaluinya, selalu berangan-angan seandainya saja adegan menjadi freeze ketika kamu -dengan postur sempurnamu itu- melewati jendela kecilku.

Memandang kamu dari dalam sini sangat mengasyikkan. Cukup memalingkan kepalaku sedikit dari depan monitor, aku dapat melihat kemunculanmu dari arah musholla, kemudian melewati kafetaria.

Kaca jendela diruanganku ini akan terlihat seperti cermin dari luar sana, siapapun di balik jendela tak kan bisa melihatku yang sedang memata-matai kamu dari dalam sini. Dan yang lebih penting lagi, kamu yang sedang aku perhatikan pun tak pernah menyadari akan aku yang menajamkan mata hingga sosokmu menghilang dari pandangan, hingga sosokmu tak nampak lagi dalam bingkai jendelaku ini.

Aku menyambut dengan penuh sukacita setiap datangnya waktu makan siang. Karena itu berarti, waktunya ‘pertemuan’ denganmu. Pukul 12:15 waktu makanmu. Dan aku sengaja menerlambatkan diri bahkan terkadang menolak ajakan teman untuk makan diluar kantor demi makan siang bersamamu.

Pun aku bersedia dengan senang hati makan siang di kafetaria kantor -yang menunya membosankan- demi waktu yang akan aku habiskan bersamamu sepanjang makan siang. Demi waktu yang terasa sangat pendek kala berceloteh tentang apa saja sehabis kita meludeskan makanan dalam piring masing-masing.

Dan demi dirimu yang terpaksa mendengarkan celotehan berisik serta gosip-gosip tak penting dari aku dan teman-teman perempuan.

Kekagumanku pada kamu berkembang semakin hari aku mengenalmu. Satu perasaan dalam relungku setiap hari terus upgrade. Mulai dari perasaan biasa sebagai kenalan, sebagai teman, meningkat menjadi kagum, dan lamat-lamat menjadi…ah entah apa namanya ini. Sebuah perasaan kagum yang berlebih, membuncah, menggantikan statusmu sebagai teman menjadi idola. Idola rahasiaku.

Betapa status barumu sebagai idola rahasia ini membuat aku jadi salah tingkah tiap kali bertemu kamu. Meski begitu, kerap kali aku berpura-pura ke pantry demi ingin sekedar berpapasan dengan kamu. Demi senyum manis itu.

Betapa aku hanya bisa melongo saat beberapa kali kamu datang keruanganku, sekedar lewat dan menyapa. ‘Hai’ sebuah kata singkat darimu yang bisa membuat bibirku membentuk lengkung huruf ‘U’.

Kamu berhasil membuat aku luluh saking kagumnya. Kagum akan cerdasnya kamu, dengan segudang prestasi ketika kuliah. Kagum akan interest-mu akan bidang-bidang yang unik. Kagum akan kegemaranmu backpacking. Kagum akan kepiawaianmu untuk ngobrol dengan tema apa saja –yang membuktikan kalau wawasanmu luas sekali. Kagum akan kegemaran baca kamu yang unpredictable. Mulai dari buku yang remeh temeh, segala jenis chicklit, hingga bacaan-bacaan yang aku tak mengerti.
  
Satu lagi, jerat kekaguman itu kau lemparkan padaku. Kamu pandai menulis. Blog kamu menjadi candu bagiku. Setiap hari kubuka dan kubaca meski tak ada posting-an baru darimu. Komen-komen kamu di blogku, juga menjadi candu yang sama. Membuat aku ketagihan ngeblog demi kamu yang akan membacanya dan meninggalkan komen.

Ada binar dimataku dan binar-binar ini sesekali bisa mencuat keluar begitu saja. Menampakkan diri pada orang-orang setiap kali aku menceritakan kamu dan segala kehebatanmu. Binar mata ini pernah tertangkap kamera. Seorang teman mengabadikannya ketika aku dan kamu menghadiri sebuah perayaan teman kantor.

Sebagaimanapun kerasnya aku menutupi perihal kekagumanku yang (mungkin) nyaris berubah menjadi rasa suka ini, rasanya aku tak pernah begitu berhasil. Aku tetap salah tingkah, grogi, dan malah sok cool ketika didepanmu.

Betapa aku merindukan saat-saat makan siang denganmu itu. Beberapa bulan keberadaanmu di kantorku serasa sekejap saja. Betapa aku sangat ingin bilang “stay here, please… a little bit longer…” ketika akhirnya kamu harus kembali berkantor di base mu. Kamu pun pergi.

Tak ada lagi pengisi bingkai-bingkai jendelaku. Tak ada lagi sosok sempurna berkemeja coklat yang menjadi aktor utama di layar pentas jendelaku. Tak ada lagi alasanku untuk menikmati adegan-adegan di luar jendela. Karena sekarang, adegan demi adegan nya hanyalah monoton orang-orang berbaju bengkel warna biru. Tanpa ada kemeja coklat disana.

Sejak kamu pergi tanpa pamit, aku tak pernah lagi memata-matai siapapun melalui jendela kecilku. Aku tak suka lagi dengan jendelaku ini.

Kupasang kerai di jendela dan merapatkannya setiap waktu, dimulai tepat sehabis aku melempar undangan pernikahanmu ke tong sampah dekat meja.

No comments: