September 14, 2011

Suatu Siang di Halte

Aku duduk di halte. Sedang menanti kawan. Bersama siang yang panas dan segelas coklat dingin, ketika sebuah bis merapat. Kamu kah itu? Yang di dalam bis berjejalan dengan orang-orang?

Kawanku mana? Tak kunjung datang. Coklat dingin hampir tandas. Kamu hanya memandang lewat celah sempit di jendela bis. Kenapa tidak turun?

Aku bukan akan naik bis itu, yang kamu tumpangi. Bukan. Aku bukan mau naik jurusan itu. Kamu turunlah kemari, duduk sebentar. Sehabis ini berganti bis agar seperjalanan denganku.

Dan kawanku...

Tapi tidak bisa yah? Kita tidak bisa bertiga dalam satu bis. 
Aku naik tidak yah ke bis tempat kamu berada kini?

Bimbang...

Kawanku mana sih? Coklat dingin sekarang benar-benar tandas. Si kawan belum juga datang sementara di dalam bis kamu mengerjap. Memberi kode agar aku ikut naik bersamamu. Tidak, aku tak suka kesana. Aku ingin ke tempat tujuanku. Aku punya sendiri.

Kawanku masih belum datang. Akan kumarahi dia kalau nanti datang. Siang ini makin membara. Bis mu bergerak perlahan meninggalkan halte
.
Aku masih duduk di halte. Masih menanti kawan. Kamu sudah pergi.

Aku...
Kamu...
Kita memang tidak sejalan.

[Halte BEJ, suatu siang]

No comments: