October 13, 2011

Semoga Pagi Tak Kunjung Tiba

Aku nyaris terlelap berbalut selimut. Bergelung kedinginan berkostumkan jersey basketmu. Jersey putih dengan tulisan merah, nomor 14. Tentu saja kedodoran. Kamu yang seperti raksasa, aku yang seperti liliput. Tivi masih menyala, siaran review liga inggris dengan kamu yang masih terjaga. Aku bangun, ingin mengintip kamu. Ah ternyata kamu tak lagi terjaga. Matamu terpejam, tubuhmu terkulai di atas karpet. Kuselimuti kamu dan kubiarkan diriku tanpa selimut malam ini. Hanya ada satu selimut.

Baru satu menit, kamu malah terbangun. Mengembalikan selimut keatas tubuhku. Gusar dengan jaket yang semakin dirapatkan dan kaus kaki yang lekat. AC padahal sudah kunaikkan suhunya. Tapi memang tetap terasa dingin. Aku juga merasa dingin. 

Kemari, kesebelahku. Disini, di atas kasur empuk dengan selimut tebal. Kamu bisa lepaskan jaket dan kaus kakimu, kita berbagi selimut malam ini. Berbagi kehangatan lewat kata yang tak tersampaikan, dari hangat tubuh yang menjalar seketika begitu jari-jari kita berpautan. Waktu serasa terhenti. Dia ikut bersama kita menikmati hangat dibalik selimut. Tak ada kata, hanya ada aku dan kamu. Tak perlu berbagi cerita, semua kisah telah tersampaikan sesampainya hangatmu menjalari setiap sel di tubuhku. 

Kita diam dengan banyak kata. Sunyi dengan isi kepala yang ramai.

Malam ini hangat.

October 12, 2011

lil' reunion

icha&aisyah, agni&myself, puput&ahnaa

ehm sebelumnya, saya peringatkan dulu kepada kalian yang melihat foto ini untuk jangan bertanya 'ko Agni gak ada yg digendong?' ya ya ya harusnya saya gendong boneka atau kucing mungkin yah heuheu. setelah sekian lamaaaanyaaa tak pernah berkumpul bertiga seperti ini, alhamdulillah siang tadi kami bisa berkumpul basamo.

perkenalken, ini besties dari jaman SMP (icha malah teman dari SD). ceritanya dulu waktu SMP, kami ini satu geng *tsaaah* temen maen bola bareng, maen kelereng bareng, ngeceng bareng, ngebatagor bareng, bimbel bareng, nyalon bareng, sampe model rambut sungguh serupa dari panjang dan tipe nya *namanya jg anak ingusan, suka mainstream*.

ketika smp maen bola bareng di teras kelas, belakang ruang guru, si bola yang entah ketika itu ditendang siapa, tetiba melambung mengenai kaca ruang guru. setelah freeze satu detik, kami semua ngacir ke segala penjuru. dengan dada dag dig dug takut dimarahin oleh salah satu guru killer yang mungkin saja ada di dalam ruangan. 

adapun kegiatan sepulang sekolah, selain bermain bola, kami pun seperti abege lainnya doyan nongkrong. tempat nongkrong paling hip kala itu adalah batagor ihsan dekat sekolah. sehabis itu, dimulai lah kami ngebolang. kemana kah kami?? *jangan tertawa, plisss* kami lewat ke depan rumah salah satu kecengan kami. iya, dicari alamatnya. dengan berbekal alamat yang entah bisa kami dapat darimana *ingat, jaman dulu belum nyadar internet, blm ada bbm, apalagi fesbuk* kami aprak-aprakan mencari alamat tersebut. demi apaaah coba yaaah! hanya lewat, mandangin, terus udah deh kami pulang. *sungguh abege gak penting*

masuk SMA, kami pun bareng. saya ini yang paling labil. padahal udah ada SMA yg di cita-citakan (dan masuk pula), tapi mengetahui icha n puput ini daftar ke SMA yang sama, yes! sayapun mendaftar kesana. mulailah masa-masa penyiksaan itu hehehe... engga deng, gak kerasa di siksa oleh sekolah yang katanya punya guru rajin banget kasih pe-er segudang. karena saya dan kedua sahabat ini malah mengumpulkan masa yang lebih banyak demi bikin dan aktif diberbagai ekskul. dan juga kami les english bersama.

kuliah pada mencar, tau-tau sekarang sudah menjadi seperti foto di atas ini. yang berbaju garis pink-orens itu adalah icha sang dokter gigi jebolan UI *yg cimahi yg cimahi, ke tmpt praktek bu dokter ini ajo :D* (yg poto kawinannya ada dimari), yang paling kanan adalah puput (yg pernah diceritaken dimari) baru selesai kuliah master di ITB *glek!* dan yang tengah... ah dia mah tokoh paling gak penting dalam cerita inih *tanpa gendongan pulak* heuu....

The Wedding: Icha & Arief

Arief & Icha



Very very late post... Akad Nikah my besty since elementary school, Annisa alias Icha. November 2010 :D Lengkapnya, ada dimari yak... silahkan mampir. owyah, pasangan ini sudah dikaruniai seorang baby girl yg lahir september kemarin. congrats ya Ibu Icha n Ayah Arief. kiss kiss baby Aisyah (blm ada foto baby nya).

October 5, 2011

Kamu, malamku.


Kamu, malamku. 
Bersama bulan menggeser sore yang hangat.
Kamu, malamku. 
Sejukkan relung kosong di kamarku.
Kamu, malamku. 
Gelapmu mencerahkan jutaan bintang di atas sana.
Kamu, malamku.
Sepastinya datang, begitu pun berlalunya.

Tak perlu tunggu itu,
apalagi harap bercampur ragu.
Tak kubiarkan cemas menghampiri,
apalagi tatapan mengiba kearah jendela.

Kamu, pasti datang.

Karena kamu...

malamku.

October 4, 2011

Untuk Yang Terakhir

Jakarta dengan siangnya yang selalu panas berhasil membuatku pening hari ini. Sekembalinya dari makan siang, aku terdiam di kubikel. Terkulai lemas ketika membaca sebuah pesan singkat.

---

Sabtu malam yang dingin seperti biasa.

'Kita gak bisa, Sayang...'
'...'
'Minggu lalu waktu ke Solo, Mbah ngajak Adit ngobrol berdua.'
'Lalu?' perasaanku semakin tidak enak.
'Maafin Adit. Ini bukan berarti kamu gak baik. Hanya saja, Adit gak bisa menyangkal kata-kata Mbah. Dan juga Mama.'
'anterin aku pulang. sekarang.'

Aku berdiri secepatnya. Melangkah keluar restoran di ikuti Adit. Di parkiran, udara begitu dingin menusuk. Tapi aku kepanasan. Nafasku tersengal dengan dada naik turun tak karuan, meski menghela nafas panjang.

'Maafin Adit'

Pelukan hangat Adit menyergapku. Aku lantak oleh derai air mata yang mulai bergulir. Perlahan, namun pasti. Perbedaan selalu saja menjadi jurang. Beberapa orang berhasil membangun jembatan diatasnya, beberapa lainnya membiarkan jurang tetap menganga. Termasuk aku dan Adit. Dit, aku tak pernah meminta Tuhan untuk terlahir Sunda.

Sejak malam itu, aku tak pernah lagi berkomunikasi dengan Adit. Kubiarkan telepon-telepon Adit tak terjawab. Tak kupedulikan sms-sms Adit yang terkadang membombardir kala malam.

Hingga setahun kemudian akhirnya aku bersedia bertemu Adit. Demi undangan pernikahan Adit. Aku menerima sendiri undangannya, menghadiri juga akad dan resepsi pernikahan Adit. Iya, aku datang menyaksikanmu, Adit.

---

Menyaksikan semuanya. Termasuk hari ini. Enam bulan setelah pernikahan Adit dan Ladya.

Aku masih sempat menyaksikan Adit dibawa pergi dari rumah Mbah. Diiringi orang-orang tercinta termasuk Ladya dan calon bayinya. Aku mematung setelah menyalami dan memeluk Mama Adit. Aku menyaksikan kamu dibawa pergi.

Kali ini aku menyaksiksan Adit dari jauh. Tidak berani mendekat. Aku bersembunyi dibalik pohon kamboja. Menutup diri dengan kerudung hitam. Aku lemas, bersandar pada batang pohon. Mulai lunglai ketika Adit ditaruh disana. Kakiku mulai hilang keseimbangan. Badanku merosot jatuh sedikit demi sedikit untuk setiap tanah yang dilempar menutupinya.

Aku terduduk sambil memeluk pohon kamboja. Merasa waktu bergerak begitu cepat. Siang tadi aku masih di Jakarta. Sore ini sudah di Solo. Baru kemarin rasanya kali pertama aku bertemu Adit. Hari ini sudah kali yang terakhir. Tidak ada lagi kali yang lain.

Kamu pergi. Kali ini tak akan pernah kembali.