October 4, 2011

Untuk Yang Terakhir

Jakarta dengan siangnya yang selalu panas berhasil membuatku pening hari ini. Sekembalinya dari makan siang, aku terdiam di kubikel. Terkulai lemas ketika membaca sebuah pesan singkat.

---

Sabtu malam yang dingin seperti biasa.

'Kita gak bisa, Sayang...'
'...'
'Minggu lalu waktu ke Solo, Mbah ngajak Adit ngobrol berdua.'
'Lalu?' perasaanku semakin tidak enak.
'Maafin Adit. Ini bukan berarti kamu gak baik. Hanya saja, Adit gak bisa menyangkal kata-kata Mbah. Dan juga Mama.'
'anterin aku pulang. sekarang.'

Aku berdiri secepatnya. Melangkah keluar restoran di ikuti Adit. Di parkiran, udara begitu dingin menusuk. Tapi aku kepanasan. Nafasku tersengal dengan dada naik turun tak karuan, meski menghela nafas panjang.

'Maafin Adit'

Pelukan hangat Adit menyergapku. Aku lantak oleh derai air mata yang mulai bergulir. Perlahan, namun pasti. Perbedaan selalu saja menjadi jurang. Beberapa orang berhasil membangun jembatan diatasnya, beberapa lainnya membiarkan jurang tetap menganga. Termasuk aku dan Adit. Dit, aku tak pernah meminta Tuhan untuk terlahir Sunda.

Sejak malam itu, aku tak pernah lagi berkomunikasi dengan Adit. Kubiarkan telepon-telepon Adit tak terjawab. Tak kupedulikan sms-sms Adit yang terkadang membombardir kala malam.

Hingga setahun kemudian akhirnya aku bersedia bertemu Adit. Demi undangan pernikahan Adit. Aku menerima sendiri undangannya, menghadiri juga akad dan resepsi pernikahan Adit. Iya, aku datang menyaksikanmu, Adit.

---

Menyaksikan semuanya. Termasuk hari ini. Enam bulan setelah pernikahan Adit dan Ladya.

Aku masih sempat menyaksikan Adit dibawa pergi dari rumah Mbah. Diiringi orang-orang tercinta termasuk Ladya dan calon bayinya. Aku mematung setelah menyalami dan memeluk Mama Adit. Aku menyaksikan kamu dibawa pergi.

Kali ini aku menyaksiksan Adit dari jauh. Tidak berani mendekat. Aku bersembunyi dibalik pohon kamboja. Menutup diri dengan kerudung hitam. Aku lemas, bersandar pada batang pohon. Mulai lunglai ketika Adit ditaruh disana. Kakiku mulai hilang keseimbangan. Badanku merosot jatuh sedikit demi sedikit untuk setiap tanah yang dilempar menutupinya.

Aku terduduk sambil memeluk pohon kamboja. Merasa waktu bergerak begitu cepat. Siang tadi aku masih di Jakarta. Sore ini sudah di Solo. Baru kemarin rasanya kali pertama aku bertemu Adit. Hari ini sudah kali yang terakhir. Tidak ada lagi kali yang lain.

Kamu pergi. Kali ini tak akan pernah kembali.

3 comments:

Aniek Handayani said...

Nice story Agni... tapi ga rela Aditnya meninggal... huhuhuhu... ga suka cerita sedih :(

Semoga cepet dapet yg baru yaa... biar ada love story lagi... hehehe

landutz said...

ini beneraaan? *superkepo,hehehe..

Agni Giani said...

mba Ani: baiklah...versi yg ini the end, ntr bikin yg baru hehe

landutz dutz dutz: terserah pembaca menyimpulkan ;) *qiqiqi*