January 23, 2012

derita asthma

disclaimer: sebagian besar isi postingan ini hanyalah curhat semata akibat badan lagi not delicious ;)

As far as i know, faktor terbesar seseorang bisa kena asthma (okay, make it just asma) adalah genetik. alias keturunan. Dan gue, mewarisinya dari Nenek pihak Bapak. Nenek punya 4 anak, semua punya asma kecuali anak pertamanya, yaitu Bapak (lucky u!), tapi... ternyata malah gue yang kena.

Jaman gue SD, temennya Uwak asal Jerman yang seorang internist bisa tau si gue asma hanya dari tanda-tanda fisik gue. Entahlah apa itu gue juga gak paham jaman dulu. Sampe-sampe si Om dokter (yg gue lupa namanya ini) ngirim inhaler dari Jerman buat gue. 2 botol buat gue, 1 botol buat anaknya Uwak yg asma juga, ama 1 botol buat Abah (kakeknya sepupu gue). Dan sejak saat itulah gue, yang gak bisa minum obat tablet or kapsul or yg sejenisnya itu, akrab dengan inhaler. Entah sebenernya ini yang pada akhirnya 'memanjakan' gue, atau sebenernya gue tertolong karena ini, gue juga gak tau.

Punya asma itu menyebalkan. Setiap kambuh, berasa mau mati. Ya bayangin ajah, gak bisa napas kan ya metong. Berbagai upaya dilakukan supaya gue sembuh asma. Tapi ya gak bisa, asma itu gak bisa totally sembuh. Yang bisa dilakukan hanya menjaga agar jangan sampai kambuh. Disarankan gue supaya rajin berenang dan olahraga low impact, gak makan buah-buahan yang bergetah macam durian nangka rambutan, dan sangat bagus untuk menghirup angin yang bergerak macam angin pantai. Dokter juga melarang gue buat gak ketawa terlalu heboh, atau nangis terlalu bombay, tapi ya mana bisa. Di Bandung, gue gak pernah lepas dari jaket. Jangan sampe gue kedinginan, terus pilek, terus asma. Dan jangan terlalu capek juga katanya, bisa memicu asma juga. On contrary, gue adalah orang yang aktif. Aktif pisan dan gak betah berdiam diri. Ikut banyak kegiatan kesana kemari, juga doyan kemping dan hiking. So far, I made it. Meski dengan inhaler yg menemani, kaos kaki tebal, jaket yang juga tebal saking tebelnya gue ampe kelelep.

Sebenernya, udara Bandung gak cocok buat gue yang punya asma. Udaranya gak bergerak, terperangkap di dalam secara Bandung dikelilingi gunung. Paham kan yaaa? :D Berkebalikan sama udara Balikpapan. Meski terik naujubile, tapi lokasi tepi pantai itulah yang paling cocok ama asma gue. Udara yang bergerak. Angin pantai, yang mengganti udara kota. 3.5 tahun gue disana, asma gue gak pernah kambuh. Bahkan gue gak pernah punya inhaler. Padahal di Balikpapan, gue pun sama aktifnya. Dan sering momotoran malam-malam. Cukup buka jendela kamar, hirup udaranya, dan gue dapat bernapas lega, literally! ;) Balik ke jakarta, sebulan pertama gue udah pake lagi itu inhaler! Capek dikit langsung kerasa sesek. Demmit! *And today, adalah kali kedua gue ber-inhaler semenjak 8 bulan gue di Jakarta.*

Doa gue cuman dua untuk malam ini. Plis Tuhan, jauhkan asma dari gue dan semoga keturunan gue gak ada yang asma. Amin.




4 comments:

Feby Oktarista Andriawan said...

Turut prihatin dengan asmanya. Semoga gak kambuh2 lagi.. :)

aprilmopgal said...

amiiinnnn :)

meika sari said...

mudah2an gak kumat2 lagi, ya. :D

Agni Giani said...

all: amiin... makasih doanya :)