December 31, 2013

pilih-pilih

Hoachm... all I hear is raindrop, falling on the rooftop. Ini beneran adanya. teman-teman di kosan sebagian libur. Jam 7 pagi belum kedenger ada kehidupan. Malasnyo... selimut seakan memeluk lebih erat pagi tadi. perjalanan ke kantor agak sucks! becek gak ada ojyek... Alhamdulillah nyampe kantor dengan selamat disambut makanan banyak meski agak kuyup *teet! cukup prolognya*

Hari ini hari terakhir tahun 2013. Mood kerja hanya 20% *ini pun udah dibooster sedemikian rupa*. Teman sebelah sedang asyik browsing review skin care. "lagi cari lotion, eye cream dan toner nih.." katanya. Lihat review-an sana sini, compare produk, etc. Sama sih, saya juga kalau lagi ada yang mau dibeli browsing sana sini. Tanya sana sini. apalagi urusan skin care. Salah-salah ujungnya malapetaka... muka jadi hancur, gimana?

Itu urusan yang 'hanya' muka lho... pilih-pilihnya selektif banget. Lama... nyoba ini itu, liat review sana sini... apalagi urusan cari pasangan hidup ya... *eh kok?! :D * untuk seumur hidup, dan bukan 'hanya' untuk taking care muka... tapi seluruh jiwa raga. Lahir batin. Luar dalam *apasih* gimana gak pilih-pilih coba? Wajar aja kan pilih-pilih... skin care gak cocok bisa ganti, beli lagi yang baru, ke dokter kulit, benerin muka... pasangan hidup gak cocok?.... you tell me... like divorce is an easy thing to do. NO.

Anyway... Please welcome 2014! Sambil nunggu ganti tahun, browsing dulu ah... baca-baca review dulu... ;)

December 12, 2013

comfort zone

The comfort zone is a behavioural state within which a person operates in an anxiety-neutral condition, using a limited set of behaviours to deliver a steady level of performance, usually without a sense of risk.
- Alasdair A. K. White "From Comfort Zone to Performance Management" [2009]

Mudahnya, daerah nyaman. Bikin gak bisa 'move-on'. Seakan hidup indah tiada kendala. Siapa yang tidak mau? tentunya semua orang ingin. Saya juga. Tapi... pagi  ini disadarkan quote yang saya baca dari Path sepupu.
a comfort zone is a beautiful place, but nothing ever grows there.
Dang! ini saya, sekarang. Ditengah-tengah comfort zone. Lagi gak banyak huru-hara dikehidupan (kerjaan ataupun social live). Tapi... (lagi) kata-kata nothing ever grows there terus terngiang-ngiang. Cool, happy, but nothing grows. Empty.


So, I'll challenge myself if i ever brave enough to grow. Move (even if only a bit) outside the comfort zone. Find another zone, another life, another changes. Take a risk!

Bismillah... semoga dimudahkan segala jalan...

December 6, 2013

how 'east' oh you eastern people?*

Pagi ini saya bikin teh di pantry, barengan ama manager saya mbakyu dari Canada. Habis doi nuang air panas dari heater buat kopinya, sambil senyum doi nawarin 'Do you want me to make some for you? you need hot water also right?'. Doi nawarin air panas dari heater yang kebetulan habis setelah dituang ke tumblernya. 'No thank you, i can use warm water from dispenser' *sambil smile, brightly. both of us.*

Ketika saya kembali ke meja, ada beberapa engineer (termasuk baru, all Indonesian) lagi berkumpul di meja besar di tengah ruangan kami(=saya dan teman-teman satu tim). Salam hati 'oh lagi pada nge-print label..' Gak beberapa lama, setelah selesai mereka pergi meninggalkan ruangan kami. begitu saja. Tanpa sepatah kata. meninggalkan saya yang speechless, sampe akhirnya gatel dan bilang 'makasiiih!' *sambil rada mendengus* *mereka gak denger*. Fyi, saat itu diruangan ada saya dan 4 orang lainnya, ada yang lebih tua dari saya juga dan pastinya lebih tua dari mereka semua. 


Saya jadi ingat pernah baca postingan seseorang (ngebuka link dari FB teman), tentang 'ke-timur-an di barat'. Yang inti tulisannya bahwa di barat sana, budayanya lebih timur dari orang timur sendiri dan tanpa pandang bulu. 

Tempo hari saya juga pernah posting tentang habit orang di elevator (kebetulan yang dibahas laki-laki). Intinya mirip, yang kita sering sebut 'orang barat' nyatanya lebih timur dari yang menyebut diri 'orang-timur-yang-ramah-dan-sopan'.

Balik ke pengalaman saya pagi ini. jujur, I was upset sama engineer-engineer muda ini. Mereka layaknya datang ke rumah orang tanpa permisi, pinjem barang dan kemudian pergi tanpa pamit. Saya kira mereka izin untuk pakai barang sama teman saya, yang ternyata tidak. Dan mendapati fakta bahwa mereka pergi tanpa permisi (apalagi terimakasih) sambil melewati rekan kerja yang lebih tua (senior), really made me mad. Sorry to say, tapi dari perlakuan akan hal kecil seperti ini sudah bisa terlihat 'sebesar' apa kalian. Indonesian youngster, thanks for ruined 'the eastern image'.

Somehow, orang timur (in this case; Indonesian) ini ramah mungkin memang, tapi pada siapa? pada orang barat? bule? expat? iya, mungkin iya. Orang timur yang dibelahan sini 'men-dewa-kan' expat. Ramahnya luar biasa (sampai kadang menjilat) pada orang asing. Tapi pada bangsa sendiri? NO! And that what's make us 'selalu terjajah'. And oh... I feel ashamed, comparing what happen with me in the pantry and when I met those lack-of-manner-engineers.


*Indonesian chapter
**ini saya bukan lagi jelek-jelekin bangsa sendiri kan ya? :D